SOSOK PEMBELAJAR YANG SENANG BERMIMPI

06 Oktober 2012

KEKUATAN DARI KETERDESAKAN

“Jika rasa sakit terhadap kondisi sekarang tidak kuat, orang tak akan beranjak untuk berubah”


Dalam kehidupan sering kita dihadapkan kondisi-kondisi yang tidak nyaman, yang memaksa kita untuk beranjak atau bergerak. Padahal kita mungkin sudah merasa sangat nyaman dengan kondisi tersebut. Kondisi nyaman diartikan juga sebagai kondisi yang sudah sangat diketahui, walaupun sebenarnya belum tentu “nyaman” buat yang menjalani. Adanya ancaman atau bahaya dari luar itu memaksa kita untuk segera bergerak atau bertindak.

Banyak contoh yang bisa menggambarkan kondisi tersebut, semisal ketika seorang dikejar anjing galak, orang tersebut berada pada kondisi bahaya. Saat itu, mekanisme tubuh bekerja dengan sendirinya, sehingga bisa menghasilkan energy yang mungkin pada saat kondisi normal tidak bisa. Dalam kondisi ini orang bisa menghasilkan energi ekstra yang digunakan untuk keluar dari kondisi kritis ini. Yang semula orang itu hanya bisa melompat 1 meter, kini secara tiba-tiba mampu melompat lebih dari 1,5 meter, untuk bisa lolos dari kejaran anjing tersebut.

Atau pernahkah Anda mendengar cerita atau melihat sendiri seorang ibu dengan kain yang membebat tubuhnya melesat dengan cepatnya dalam beberapa detik, demi menolong anaknya yang belum genap satu tahun bergelantungan di bagian atas tangga putar, lalu ketika tangan sang anak terlepas dari tangga putar, dengan cekatan si ibu menangkapnya dari bawah, sampai kain yang dipakainya robek-robek, dan akhirnya anaknya itu bisa diselamatkan.

Bahkan masih banyak lagi, ribuan atau jutaan peristiwa atau kondisi dimana sesuatu itu dihadapkan pada kondisi bahaya atau terdesak. Bisa keluar dari kondisi tersebut dengan mengeluarkan kemampuan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ini yang sering disebut orang sebagai The Power of Kepepet. Keterdesakan dan ancaman dari luar yang membuat kita harus bergerak untuk mempertahankan diri.

Prof Yohanes Surya mengatakan kondisi ini sebagai titik kritis. Dalam bahasan yang lebih mendalam Profesor yang sudah mengantarkan beberapa siswa Indonesia meraih medali emas di ajang olimpiade fisika ini, menemukan teori yang dinamakan Teori Mestakung. Mestakung itu sendiri kepanjangannya dari Semesta Raya Mendukung. Gambaran umumnya kurang lebih seperti ini, pada saat sesuatu sedang dihadapkan pada kondisi bahaya atau disebut kritis. Tuhan telah menyediakan semesta (yang dimaksud semesta dalam hal ini adalah sel-sel tubuh kita, pikiran, keluarga, teman, lingkungan dan alam sekitar kita) yang akan mengatur diri untuk membantu kita keluar dari kondisi ini. Ada tangan-tangan tak nampak yang akan membantu kita, mereka sering disebut invisible hand.

Teori Mestakung diturunkan menjadi 3 hukum yang sering di ringkaskan sebagai KRILAKUN (merupakan singkatan dari kata KRItis, LANGkah dan teKUN). Hukum ini berbunyi sebagai berikut:

1. Hukum Kritis 
Pada setiap kondisi KRITIS ada jalan keluar. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan dalam agama bahwa “….. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5). Kita tidak sadar bahwa ketika kita sedang dihadapkan dengan kesulitan, percayalah bahwa kebahagiaan sebenarnya sedang menanti kita di ruang tamu. Tentunya kita akan bertemu kalau kita bisa dan berhasil menghadapi kesulitan. Tidak usah khawatirkan juga karena janji Tuhan juga, Dia tidak akan memberi beban di luar kemampuan hambanya.

2. Hukum Langkah 
Ketika seorang MELANGKAH, ia akan melihat jalan keluar“. Bukankah ada pepatah dari luar juga mengatakan “if there's a will there's a way” yang kurang lebih artinya setiap ada keinginan pasti ada jalan. Imbasnya jadilah pribadi yang dalam segala sesuatu itu selalu melihat ada solusi dari setiap masalah. Berpikir dengan paradigm bahwa kalau sesuatu hal itu sulit, tapi masih bisa untuk dipecahkan. Tidak mudah, tapi bisa dilaksanakan. Jalan keluar dan pengertian itu akan kita dapatkan kalau kita terus berlatih keras, berpikir, rajin bertanya pada banyak orang, meminta bantuan dan nasehat orang bijak, membaca buku dan literatur, belajar dari orang yang berhasil keluar dari kondisi yang mirip dengan kondisi tersebut.

3. Hukum Tekun 
Ketika seorang TEKUN melangkah, ia akan mengalami mestakung (semesta mendukung). Tekun disini diartikan sebagai usaha yang kontinu untuk menghasilkan yang terbaik. Dalam ketekunan ada semangat pantang menyerah ketika bertemu dengan kegagalan. Kalau apa yang dilakukan saat ini dianggap kecil oleh orang lain. Maka lakukan hal kecil ini dengan kesungguhan yang besar. Tinggal tunggu waktu mengenai hal-hal besar yang akan datang kepada kita. Dalam ungkapan Arab yang terkenal “Man Jadda WaJada” yang artinya “Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil”.

Mengingat pentingnya kondisi keterdesakan yang membuat seseorang bergerak. Dan rela meninggal zona atau keadaan yang sudah dikenalnya atau sebagian orang mengatakan “nyaman”. Maka tak usah khawatir dan takut mengenai ancaman atau kondisi yang berbahaya yang mengancam kita. Nikmati setiap kesulitan dan keterdesakan yang menghadang. Karena didasari sebuah keyakinan bahwa setelah kita berhasil menghadapi dan melewati kondisi terdesak dan kritis itu, kita akan menjadi pribadi baru yang lebih hebat, kuat dan bijak dalam menghadapi kesulitan berikutnya.
Wallahu'alam bishowab
Selengkapnya...

ENERGI, UANG DAN WAKTU

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al Ashr)."

Saya sempat tersenyum kecut saat salah satu teman kontak di bbm saya memasang gambar profile yang berisi tulisan seperti ini, manusia itu dihadapkan 3 kondisi:
1. Masa Sekolah ; Energi ada, waktu ada, tapi uang tak ada.
2. Masa Bekerja ; Energi ada, uang ada, tapi waktu tak ada.
3. Masa Tua ; Uang ada, waktu ada, tapi energy tak ada.

Saya yakin kita pernah mengalami salah satu fase di atas. Saya termasuk orang yang sudah merasakan fase pertama dan saat ini sedang menjalani fase yang kedua. Fase pertama saya rasakan betul saat masih duduk di bangku sekolah. Saat dimana energy masih sangat banyak, waktu luang juga banyak, tapi sayang saat itu uang tak ada. Karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya mengandalkan kiriman bulanan dari orang tua. Saat itu banyak sekali keinginan dan cita-cita yang ingin dicapai. Dari mulai ingin bekerja di perusahaan bonafit, ingin mendapat penghasilan besar dll.

Dan ujung-ujungnya tentu dengan itu semua semua saya bisa membeli apapun yang saya inginkan. Kebetulan 2 hal yang saya dendam saat itu adalah makanan dan buku. Saya dendam sama makanan yang tidak bisa saya beli, karena kalau beli pasti uang saku saya akan bermasalah sampai akhir bulan. Saya juga dendang dengan buku-buku bagus yang menjadi kegemaran saya dalam membaca. Tapi saya hanya bisa meminjamnya di perpustakaan.

Itulah kenapa saat saya sudah bekerja, dan saya sudah memiliki kelebihan sedikit uang, saya tidak sungkan-sungkan untuk membeli makan apapun yang saya mau dan suka. Bahkan saat saya melewati sekolahan, dimana disana banyak sekali jajanan yang dijual, tak jarang saya berhenti dulu untuk sekedar membelinya dan mencobanya. Memang rasanya sudah tak seenak dulu saat saya masih sekolah, tapi tetap bisa menikmatinya. Walaupun saya harus bersembunyi untuk mengkonsumsinya. Karena saya tau diri kalau saya sudah tak pantas lagi makan jajanan anak sekolahan tersebut. Ada perasaan puas dimana saya bisa membeli makanan dan jajanan yang dulu merupakan barang yang cukup mewah kala itu. Tapi sekarang, makanan seperti ayam goreng yang dulu cukup jarang aku makan, saat ini menjadi makanan sehari-hari yang sudah tak lagi terasa istimewa buatku (walaupun tetap enak). Karena saya bisa membelinya dan mengkonsumsinya kapan pun saya mau.

Tentu saja yang cukup saya syukuri adalah dimana saya bisa membeli buku-buku pengembangan diri, motivasi dan psikologi popular yang selama ini jadi tema favorit untuk dibaca. Sekarang saya tak perlu lagi menunggu buku itu masuk rak diskon, atau nunggu bulan depan untuk membelinya. Saat dirasa saya tertarik sama sebuah buku dan memang isi serta tampilannya menarik, sudah pasti tidak akan luput untuk dibeli.

Itu kondisi yang saya syukuri disaat saya sudah bekerja. Bahkan diusia yang tergolong cukup muda (27 tahun) saya sudah bisa menjadi Kepala Cabang di perusahaan tempat saya bekerja. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, saya punya cukup penghasilan untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan yang tak pernah terbayangkan dimana saya memiliki kendaraan dinas berupa mobil. Saya pun “diperkosa” untuk bisa mengemudikan kendaraan roda empat tersebut, yang sebelumnya tidak pernah sedikitpun terdetik dalam hati akan bisa mengemudikannya.

Dan yang sangat membanggakan saya bisa mengantarkan ade saya untuk lulus dari sekolah menengah atas, dengan hampir seluruhnya biaya saya tanggung. Tinggal menjadi PR saat dia sudah masuk perguruan tinggi. Semoga saat itu pun saya masih bisa membiayai dia sampai lulus kelak nanti. Karena itu salah satu janji saya ke alm Bapa saat berdoa di atas pusaranya.

Kesuksesan yang saya dapat sekarang bukan tanpa harga. Pertama saya harus jauh dari keluarga, bukan saja beda kota, bahkan sekarang beda pulau. Selanjutnya tentu saya banyak kehilangan moment-moment berharga semisal saat teman atau saudara menikah. Beberapa diantaranya adalah teman dekat. Sedih rasanya tidak bisa hadir dalam acara yang sangat penting, karena itu terjadi hanya sekali seumur hidup. Resiko lain adalah saat saya terkena sakit. Beberapa kali saya kesulitan dan kerepotan saat sakit dimana saya harus menjaga pola makan dan makanan yang harus dimakan. Semisal saat saya harus mengkonsumsi bubur, sangat sulit untuk bisa mendapatkannya. Mungkin kalau masih bersama ibu, pasti dia yang membuatkannya, mengingatkan untuk makan atau mungkin hanya sekedar menyuruh untuk minum obat.

Tapi semua tak apa buatku. Dari awal memang sudah ditekadkan untuk mengembara dan membeli mimpi-mimpi yang sudah disemai saat masih kuliah dulu. Apa yang aku ceritakan di atas hanya sedikit dari harga yang harus aku bayar untuk mendapatkan kesuksesan. Yang paling menyedihkan dan miris tentu karena kesibukan kerja, aku punya sedikit waktu untuk bercengkerama dengan orang-orang terdekatku. Tak jarang untuk telepon saja, kadang harus menunggu hari sabtu atau minggu. Dan karena alasan jarak juga, aku tidak bisa mendampingi ade-ku untuk daftar kuliah di universitas yang dia inginkan.

Ketiadaan waktu pula yang menyebabkan aku tertinggal dari kawan-kawan sebayaku. Satu persatu mereka sudah menikah, bahkan ada beberapa diantaranya yang sudah punya anak. Padahal secara umur kadang mereka jauh dibawah, dan tentu secara penghasilan juga. Tapi mereka berani dan mereka bisa juga. Itulah yang membuatku sedikit gamang dengan apa yang dikejar. Karena saat karir sudah saya dapatkan, tapi dalam masalah asmara yang ditandai dengan membangun sebuah keluarga, ternyata saya belum apa-apa dibanding mereka.

Berharap masa-masa ini tidak terlalu lama. Karena saya yakin dalam hidup yang baik itu adanya keseimbangan. Seimbang antara pekerjaan dan keluarga. Saya berharap bertemu dengan orang yang tepat untuk memulai usaha. Sehingga saya sudah tidak bekerja sama orang lagi saat saya berusia 35 tahun. Saya tetap memiliki energy, uang dan waktu untuk menikmati indahnya dunia….Amien…

Selengkapnya...

12 Juli 2012

Dream, Believe and Make It Happen!


“ “the future belongs to those who believe in the beauty of their dreams”. (Masa depan hanya dimiliki oleh orang-orang yang percaya pada keindahan mimpi-mimpi mereka) ” -Eleanor Roosevelt-

Beberapa dari sebagian anda mungkin sudah sangat mahfum dengan ucapan tersebut (judul). Slogan tersebut populer dikampanyekan oleh artis multi talenta Indonesia yaitu Agnes Monica. Bukan tentang sosok Agnes monica nya yang ingin saya bahas, melainkan tentang kedalaman penggalan kata yang ada dalam ucapan tersebut.

Dream
Dunia saat ini sudah menjadi saksi dan bukti bahwa yang dulunya tidak mungkin, sekarang malah hadir ditengah-tengah kita. Tak sulit untuk menunjukan buktinya. Salah satunya kita pantas berterimakasih ke Bill Gates yang memiliki mimpi “Suatu saat nanti seluruh rumah di dunia ini akan menggunakan komputer “. Padahal saat itu ukuran komputer sangat besar dan sangat tidak mungkin untuk masuk ke dalam rumah.

Belajarlah kepada Wright Bersaudara yang yang mempunyai mimpi manusia bisa terbang seperti layaknya burung. Jelas mimpi saat itu dianggap sebagai mimpi yang gila dan tak masuk akal. Lebih menyedihkan lagi karena orang tuanya adalah orang yang paling menentang mimpi gila itu. Tapi Wright Bersaudara mengabaikan seluruh hinaan, cibiran dan makian yang diterimanya, sehingga mulai mendeskripsikan dengan jelas mimpinya. Dan kalau kita saat ini bisa bepergian kesana-kemari dengan mudah melalui naik pesawat terbang, itu tidak lepas dari hasil mimpi mereka yang akhirnya mempelopori penemuan pesawat terbang.

Tentu masih banyak lagi contoh tokoh-tokoh yang dengan mimpi besarnya akhirnya kita dijaman sekarang bisa menikmati hasilnya. “Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia, berlarilah tanpa lelah hingga engkau meraihnya”. Apabila ada orang diantara kita yang mencibir dan menghina apa yang kita cita-citakan tak usah dihiraukan. Jangan dengarkan dan abaikan saja omongan orang yang tidak akan membantu dan menolongmu saat kita jatuh dan gagal.

Believe
Believe erat hubungannya dengan visi. Bisa melihat dengan jelas gambaran masa depan walaupun belum mengalaminya. Tentu mimpi tidak akan berarti apa-apa tanpa kita mempercayai dan meyakininya. Karena kitalah orang pertama yang harus percaya bahwa mimpi besar kita bisa tercapai. Kita tidak bisa berharap orang lain mempercayai mimpi kita tanpa kita sendiri mempercayai, meyakini dan membuktikannya. Believe juga berhubungan dengan iman. Kita meyakini sesuai yang tidak kasat mata. Tapi kita yakin itu ada dan bisa.

Simak cerita nyata dari Kolonel Sanders (Pendiri KFC), keyakinannya untuk membangun suatu restoran dengan konsep franchise tetap menyala dan membara walaupun ditolak oleh ribuan orang, dan pada orang ke-1007 barulah mimpinya diterima. Bisa kita bayangkan, dia masih tetap yakin dan semangat walaupun sudah gagal sampai 1006 kali. Hanya kekuatan believe yang mampu mengantarkan dia sampai ke tujuan tersebut.

Tak lengkap rasanya kalau tidak membahas Thomas Alfa Edison, yang berhasil mambantu manusia dari kegelapan dengan mengciptakan lampu pijar. Padahal dia sudah gagal sampai 999 kali. Saatitu dia berkata bahwa dia bukan gagal, tapi berhasil membuktikan bahwa bahan-bahan yang ada dalam 999x eksperimennya itu tidak bisa digunakan. Dia memimpikan dengan jelas malam yang terang itu seperti apa. Terus-menerus ia memperkuat dan memperjelas mimpinya sambil terus mencoba membuat lampu. Hingga akhirnya kita bisa menikmati hasil dari upayanya.

Make it Happen!
Mimpi yang besar tidak akan berarti apa-apa tanpa ada action. Karena yang terjadi adalah NATO (No action Talk Only) atau NADO (No Action Dream Only). Mimpi itu tak ubahnya seperti mimpi di siang bolong. Untuk bisa mencapai mimpi besar itu, selain dari percaya (believe), kita harus mulai break down. Mimpikan yang besar, tapi lakukan dari hal-hal kecil. Seperti pepatah cina “Perjalanan 1000 mil dimulai dari langkah pertama”. Tak usah bersedih hati dan berkecil hati, apabila saat ini kita masih berada diposisi yang jauh dari mimpi itu. Teruslah berjuang untuk meraihnya. Break down apa saja yang harus dilakukan untuk mencapai mimpi tersebut. Mengutip pepatah Mario Teguh “Lakukan hal kecil dengan kesungguhan yang besar”. Karena hal-hal besar akan datang pada orang yang mau melakukan hal kecil tapi dengan keseriusan dan kesungguhan yang besar.

Life is not theory. Life is action! Karena hidup tidak hanya teori, tapi hidup adalah tindakan. Maka jadilah bukti dari apa yang anda ucapkan. Kalau kita berkata bahwa disiplin itu baik, jadilah orang yang pertama datang ke tempat kerja. Terakhir saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan kalimat indah milik Thomas Henry Huxley bahwa “Akhir agung kehidupan bukanlah pengetahuan, melainkan tindakan.”
Selengkapnya...

10 Desember 2011

THE MAGIC OF FORGIVENESS

“Memutuskan untuk tidak memaafkan berarti mengambil keputusan untuk menderita” Gerald G Jampolsky

Dalam kehidupan tak mudah rasanya kita untuk melakukan tindakan memberi. Bila hal itu (memberi) dilakukan pun, pasti kita lihat-lihat dulu orangnya. Orang terdekat, saudara, teman lama atau siapa saja yang punya hubungan dekat dengan kita itu yang biasanya dapat prioritas pertama untuk kita beri. Itu saat kita berbicara mengenai pemberian berupa barang, uang atau mungkin kasih sayang. Nah bagaimana kalau yang akan kita beri adalah pemberian maaf, apalagi itu menyangkut seseorang yang telah melukai perasaan kita.


Tentu tidak mudah dan selalu tidak gampang untuk bisa memaafkan seseorang yang telah menyakiti kita baik itu berupa ucapan atau tindakan. Yang tersisa pasti hanya rasa dendam untuk membalas atas apa yang semua yang sudah dilakukan, sehingga barulah kalau itu sudah tercapai, maka hati ini akan menjadi puas. Tapi pertanyaannya apakah lantas hati ini akan bisa damai apabila sudah balas dendam, lalu bila dendam itu tidak terlaksana, betapa gundahnya hati ini dibuatnya.

Adalah perasaan itu pula yang saya rasakan ketika merasa dikhianati oleh seseorang yang sangat saya cintai. Perjalanan waktu sesudahnya, nyatanya tak bisa serta merta mengobati rasa luka di dada. Waktu yang kata orang menjadi obat dari segala pelipur lara, buktinya tetap tak berdaya bila ingat memori lama. Ada perasaan dendam yang mengemuka dan perasaan tak rela bila ternyata dia bahagia bersamanya.

Perasaan dendam dan sakit hati itu tetap saja tumbuh subur sampai akhirnya saya dapat pencerahan lewat buku yang tak sengaja saya baca. Dari situ saya bisa mengetahui kenapa perasaan terluka dan sakit hati itu tak kunjung sembuh jua. Jawabannya itu karena kita belum bisa memaafkan kejadian menyakitkan itu dengan sempurna.

Alur logika bisa dijelaskan dengan memulainya dari kata lupa. Hukum alamnya, lupa itu sesuatu yang tidak kita sengaja (terjadi secara alami). Itu adalah fitrah manusia, atau dengan kata lain lupa itu hal yang manusiawi. Sedangkan melupakan berarti tindakan yang disengaja, atau men-sengaja-kan untuk lupa. Melupakan sama seperti melawan hukum alam. Itulah kenapa ketika kita ingin melupakan sesuatu atau seseorang, justru bayangan itu akan semakin kuat tertanam di benak kita. Usaha seperti membakar surat cinta, foto atau benda-benda pemberiannya, dengan harapan bisa melupakannya, hasilnya tetap saja tidak bisa.

Rasa sakit hati dan dendam terhadap seseorang atau kejadian buruk itu akan “sembuh” bila kita sudah memaafkan. Menerima kenyataan pahit tersebut dan kembali pada kehidupan yang normal, maka akan berangsur-angsur lupa pada kejadian itu. Inilah lupa yang terjadi secara alami. Memaafkan bukan berarti melupakan, dengan kita memaafkan kita akan berusaha menghilangkan “beban” yang kita alami karena kejadian pahit itu. Kejadian itu sendiri tidak perlu kita lupakan. Justru kita harus belajar banyak dari kejadian tersebut. Sehingga suatu saat nanti kita bisa menceritakan hal yang menyakitkan itu dengan tanpa emosi dan santai atau bahkan dengan dengan menertawakan diri kita sendiri. Karena kita sudah tidak terpengaruh secara emosional dan sudah melepaskan ikatan emosi pada peristiwa tersebut.

Selengkapnya...

25 Juni 2011

MENANG TANPA NGASORAKE

Setiap “note” yang saya tulis pasti tak akan jauh-jauh dengan apa yang sedang dirasakan, diamati dan diharapkan. Tulisan buat saya seolah catatan sejarah tentang apa saja yang sudah terjadi menimpa hidup. Tulisan juga merupakan penyemangat tentang apa saja yang akan saya hendak capai dalam hidup. Tulisan juga sebagai pengingat dan alarm, saat saya merasa ada sesuatu salah dalam hidup, saat jalan yang dilalui sudah keluar dari relnya. Saya berharap saat saya tak ingat (khilaf), orang lain yang sudah membaca tulisanku nanti yang mengingatkannya. Jadi tidak ada satu pun niat untuk menggurui, merasa lebih tahu atau sudah bisa melakukannya, ketika saya menulis tema tertentu.

Seperti saat ini saya sedang rasakan suatu hal. Saya sedang merakan sindrom sukses-isme. Bangga dengan apa yang sudah diraih, sehingga mengecilkan proses dan menganggap orang lain lebih kecil atau kalah dari kita. Terlena dengan apa yang sudah didapat dan agak enggan untuk belajar karena merasa sedang berada dalam kesibukan, kesudahbisaan dan kesudahtahuaan (he ngawur bahasanya). Dalam bahasa yang indah penulis buku Brian Tracy menyebutnya sebagai jebakan intelektual, perasaan merasa sudah cukup dengan apa yang sudah diraih dan enggan belajar lagi. Parahnya apa yang saya rasakan (jebakan intelkektual/jebakan kesuksesan) tersebut kadang menjadi dasar untuk merendahkan dan meremehkan pencapaian orang lain.



Perasaan adigung adiguna rasanya tidak bisa dilepaskan dari dari kata rendah hati. Karena kalau perasaan rendah hati itu ada, tidak mungkin kita terperosok ke dalam perasaan sombong itu. Ada falsafah jawa yang adi luhung mengatakan "Sugih tanpa bandha, Digdaya tanpa aji, Nglurug tanpa bala, Menang tanpa ngasorake". Demikian warisan leluhur yang diturunkan oleh RM Pandji Sosrokartono kepada anak cucunya. RM Pandji Sosrokartono ( Lahir tanggal 10 April 1877 ) adalah putra Bupati Jepara yaitu RM Adipati Ario Sosroningrat, dan adalah kakak dari Pahlawan Wanita Indonesia RA Kartini.

Menang tanpa ngasorake

Satu point saja yang ingin saya comot dari falsafah hidup yang luar biasa itu yaitu menang tanpa ngasorake. Saya mengenal istilah ini dan bisa melihat bagaimana cara atau contoh melakukannya ketika sedang senang-senangnya melihat debat pemilu. Dalam banyak kesempatan, saya jujur jatuh cinta dengan sosok yang memikat hati ketika dia sedang berdebat. Sebut saja dia Anas Urbaningrum, cara dia menyampaikan argumen, mempertahankan pendapat dan menyerang lawan debat, jauh dari kata menyakitkan, dilakukan dengan santun. Dan kalau pun lawan debatnya sudah mulai terpojok, dia selalu membuka ruang untuk lawannya bisa bersembunyi dan tidak merasa malu. Bukan personal orangnya yang ingin saya bahas melainkan ajaran apa yang sudah dia terapkan dalam melakukan debat, indah sekali rasanya bisa melihatnya.

Ternyata falsafah jawa tersebut lahir jauh sebelum manajemen modern ada. Hanya saja saya sendiri termasuk orang yang mengenal hal tersebut justru dari ajaran orang barat (mungkin karena saya sudah mengenal makanan Kentucky (KFC) sehingga melupakan makanan tempe bacem he3), adalah Dale Carnigie dalam sebuah karyanya “How to get friends and influence people”. Dia mengatakan “berikan kesempatan buat orang lain untuk menyembunyikan mukanya”. Namun saya yakin banyak diantara kita (termasuk saya), terkadang ketika emosi dan marah kepada seseorang, ingin rasanya menumpahkan semua sumpah serapah, ingin rasanya semua kejelekan dan aib orang tersebut kita buka. Biarlah dia tidak berkutik dan tidak ada kesempatan untuk menyembunyikan rasa malunya.


Padahal sejatinya, kita juga belum tentu lebih baik dari seseorang yang kita remehkan. Belum tentu sikap dan prilaku kita juga lebih baik dari apa yang kita tuduhkan ke mereka. Kalaupun ada perasaan kita bahwa kita merasa lebih di depan atau lebih dulu dari orang lain. Bukankan itu hanya masalah jarak dan waktu? Dengan percepatan, semangat dan motivasi yang kuat, rasanya kalau kita tidak mawas diri, akan sangat mudah buat orang lain untuk menyalip kita.

Keberhasilan dalam upaya pertama atau keberhasilan yang sudah digenggam, kadang membuat kita lengah dan terlena, sehingga akan mengerdilkan proses, dan menganggap semuanya sudah didapat dengan mudah. Kita sering tidak sadar bahwa, dunia akan cepat berputar, era akan cepat berganti. Kemampuan dan pengetahuan yang sudah kita dapat tidak akan relevan lagi dengan kondisi nanti. Jadi siapa saja yang tidak siap untuk perubahan dan persaingan, merasa puas dengan apa yang sudah dicapai, maka siap-siaplah dia akan digusur oleh orang lain yang lebih siap dan sedang berlari untuk mengejar ketertinggalannya.

Terakhir, tulisan ini hanya sebagai instrospeksi buat diri sendiri agar tidak mudah lalai dan terlena. Apa yang sudah dicapai tidaklah berarti apa-apa bila kita merasa angkuh dan tidak menjadi manfaat buat orang lain. Bersyukur bila tulisan ini bisa mengingatkan banyak orang juga yang sedang dimabukan dengan keberhasilan karena mungkin, sudah mendapatkan pekerjaan impian, pasangan idaman, materi dan harta yang didambakan. Selayaknya itu semua tidak membuat kita buta dan besar kepala. Karena itu sifatnya hanya sementara. Tak ada yang istimewa saat kita sudah dipanggil Sang Empunya. Wallahualam bisawab.....
Selengkapnya...

Proud To Be a Salesman

Salesman…hmm…pasti banyak diantara kita yang menyepelekan dan menganggap remeh profesi yang satu ini. Jauh kalah menterengnya dibandingkan dengan profesi yang lain seperti dokter, pengacara, konsultan, auditor dll. Bagi mahasiswa yang baru lulus dan sedang mencari kerja, lowongan kerja sebagai tenaga penjual sangat dihindari. Paling tidak seperti itu pula yang aku rasakan saat itu.

Sehingga dalam berbagai kesempatan banyak perusahaan yang menjebak calon mangsanya dengan nama-nama pekerjaan yang cukup asing. Seperti contoh dalam dunia perbankan kita mengenal istilah account officer, dunia farmasi mengenalnya sebagai medical representative, dalam perusahaan pembiayaan dikenal sebagai credit marketing officer, untuk perusahaan asuransi menyebutnya sebagai agen asuransi.



Saya termasuk salah seorang yang terkena jebakan itu…he3. Karena tadinya saya termasuk ke dalam kategori orang yang secara stereotif memandang sebelah mata pekerjaan sebagai seorang sales. Makanya dalam banyak pekerjaan yang saya coba lamar, prinsip kehati-hatian selalu saya jaga agar tidak salah ambil pilihan pekerjaan tersebut.

Dan seperti biasa, langkah awal selalu terasa berat untuk memulai sesuatu yang baru. Begitu pula yang aku rasakan saat pertama kali saat jadi sales. Beban target yang cukup besar dan pressure pekerjaan yang cukup kencang sempat membuat aku sedikit goyah dengan profesi ini. Sampai pada akhir saya meyakini, bahwa ini profesi yang cukup menjanjikan dan mampu mengembangkan segenap potensi yang dimiliki.

Kenyataannya, dunia penjualan merupakan tempat yang cukup tepat untuk mengasah sikap mental, daya tahan terhadap tekanan, dan juga dalam mengelola kecerdasan emosi untuk bisa membina hubungan baik dengan banyak orang lain, baik itu teman sekantor maupun pelanggan. Secara jenjang karir pun cukup jelas, dimana kinerja seorang sales bisa diukur dengan jelas dari pencapaian target yang dibebankan. Dari segi pendapat pun cukup menggiurkan karena penghasilan tidak hanya diperoleh dari gaji pokok, tapi penghasilan lebih besar didapat dari insentif, bonus, atau komisi.

Bahkan secara idealisme, profesi sales pantas dibanggakan juga. Bagaimana tidak, coba kita runut dengan analisa logika seperti ini, pendapatan negara sebagian besar diperoleh dari pajak, subyek pajak badan usaha member porsi yang cukup besar dibandingkan pajak yang dikenakan kepada individu. Dan dalam laporan keuangan perusahaan atau badan usaha, pajak diperoleh dari persentase (tarif pajak) di kali laba yang diperoleh. Laba sendiri diperoleh dari hasil selisih penjualan dikurangi biaya pokok dan biaya operasional lainnya. Jadi jelas lah sudah kalau penjualan menjadi pembentuk utama bagaimana laba bisa diperoleh. Dan kalau berbicara tentang penjualan, peran sales lah yang cukup dominan untuk transaksi itu bisa terjadi. Jadi seorang sales sebenarnya telah banyak memberi sumbangsih cukup besar pendapatan kepada negara walaupun secara tidak langsung.

Terakhir, menghadapi ketatnya persaingan hidup di masa depan, rasanya tidak berlebihan kalau kemampuan menjual menjadi keterampilan yang cukup dibutuhkan. Yang pertama adalah kemampuan untuk menjual, artinya menjual produk apapun yang dipegangnya. Dan kalau pun kita tidak mempunyai hal tersebut, paling tidak kita bisa menjual kemampuan yang kita miliki, apapun profesi kita. Karena dengan kemampuan ini kita bisa menjadi dokter yang lebih banyak pasiennya dibandingkan dokter lain, pengacara yang lebih terkenal dari pengacara yang lain, auditor yang lebih handal dari auditor yang lain dan banyak lagi yang lainnya…Dan bagi saya menjadi sales salah satu cara untuk bisa hijrah dari kuadran kiri ke kuadran kanan..semoga dimudahkan….
Selengkapnya...

04 Maret 2011

Bahagia dan kaya, untuk siapa?

"Saat anda sedang dekat dengan seseorang, mana yang akan anda pilih, "SESEORANG YANG MEMBUAT ANDA YAKIN BAHWA DIA ORANG HEBAT ATAU SESEORANG YANG MEMBUAT ANDA YAKIN BAHWA ANDA PUN ORANG HEBAT." Mana yang akan anda pilih? "

Saya awali note ini dengan ungkapan yang cukup menarik yang diucapkan oleh salah satu motivator Indonesia. Ucapan itu rasanya semakin kontektual dengan beberapa kejadian yang saya alami. Godaan untuk menunjukan siapa kita rasanya semakin kuat, apalagi saat kesuksesan kian mendekati kita. Rasanya ingin semua orang tau kalau kita ini orang hebat, punya harta banyak, jabatan tinggi. Tak puas rasanya kalau orang belum tau raihan kita. Dalam pribahasa sunda "asa aing uyah kidul". Muaranya cuma satu, yaitu pengakuan dari orang lain.


Banyak yang tak sadar kalau ternyata apa yang kita lakukan, untuk menunjukan kelebihan kita ternyata tak jarang membuat orang lain merasa iri. Bahkan yang lebih parah justru membuat orang lain merasa inferior dengan dirinya sendiri. Imbasnya mereka akan merasa kalah dan tidak semangat lagi dalam hidup. Karena apa yang kita capai akan menjadi pembanding yang cukup sulit untuk disamai bahkan didekati. Lantas pertanyaannya buat apa dong kesuksesan yang kita dapatkan dan kita bangga-banggakan selama ini?

Mengapa kita begitu menggebu untuk mengumpulkan banyak harta. Terobsesi untuk menaikan derajat dengan naik pangkat. Kalau ternyata apa yang kita dapatkan itu tidak berimbas atau tidak memberi manfaat buat banyak orang. Bukankah sejak dulu agama mengajarkan "khairunnas anfa'uhum linnas" bahwa sebaik baik manusia adalah yang banyak manfaatnya. Lalu buat apa harta yang banyak kalau tidak bisa membantu orang yang sedang kesusahan. Buat apa pangkat yang tinggi kalau ternyata tidak memberi dampatk positif buat orang lain.


Tak ada salah dengan menjadi kaya. Dan tak ada yang keliru bila ingin bahagia. Yang jadi masalah adalah, sudahkah anda merencanakan untuk mengikutsertakan kebahagiaan orang lain dari kebahagiaan yang ingin anda capai? Dan dalam rencana kesuksesan, sudahkah anda memasukan rencana untuk membuat banyak orang sukses juga? Kalau belum...periksa kembali rencana anda. Karena bahagia dan kaya kalau hanya untuk sendiri.... buat apa?


Selengkapnya...

17 November 2010

KESEMPATAN ITU MASIH ADA !!!

“Dalam bahasa Inggris kata kesempatan adalah opportunity, inisial huruf O di depan kata, bukannya tanpa makna, itulah kenapa dalam kata yesterday (kemarin) tidak terdapat huruf O, karena memang hari kemarin sudah berlalu, tak ada kesempatan lagi untuk dirubah, Berbeda dengan kata Today (sekarang/hari ini), terdapat 1 huruf O, itu karena kita punya 1 kesempatan untuk yang harus dimanfaatkan, dan jangan takut, dengan berapa besarnya kesalahan yang kita perbuat kemarin dan hari ini, bila kita punya hari esok (Tommorow), itu karena kita punya banyak O (opportunity) untuk merencanakan dan melakukan perubahan”

Kalimat bijak itu tak sengaja aku baca di bbm-ku, karena saat itu masih pagi buta, makanya aku tak sempat mencerna maknanya, karenanya aku berlalu ke kamar mandi untuk melakukan hajatku. Penasaran dengan maksud kalimat itu, aku coba baca kembali isi bbm dengan seksama. Akhirnya aku tersenyum simpul, setelah aku pahami maksudnya dan setelah tau siapa yang mengirimnya. Pesan itu sengaja dikirim oleh bos-ku, sebagai “sarapan pagi”, sebelum aku berangkat kerja. Maklum saja sebagai seorang sales, aku dituntun untuk terus memelihara api semangat itu agar tetap membara. Karena kesempatan akan terbuka lebar saat ini dan esok hari.

Dalam perjalanannya, aku pikir kalimat itu semakin kontektual dengan beberapa kejadian yang sering kita alami. Tak jarang kita tak bersemangat lagi, dan menyesali dengan apa yang sudah terjadi/apa yang sudah diperbuat. Seolah semuanya sirna gara-gara kita melakukan satu kesalahan dan kegagalan. Dunia seperti mau kiamat, matahari seakan tak akan terbit lagi, semua sinar pencerahan terhalangi oleh kesalahan yang sudah kita perbuat. Makanya tak heran ada diantara kita yang menyikapi kondisi ini dengan sikap putus asa dan penuh penyesalan.

Padahal kalau kita benturkan apa yang kita alami dengan kalimat di atas. Tak ada alasan kita untuk patah semangat dan putus asa. Ya…hari kemarin..hanya sebuah kenangan, tak ada yang bisa kita rubah, seperti pepatah “nasi sudah menjadi bubur”. Tanpa kita sadari, kita ternyata masih punya hari ini, artinya kita punya kesempatan untuk melakukan perbaikan dari kesalahan yang telah kita perbuat. Dan tentunya terakhir kita harus tetap optimis dan semangat, untuk menyambut hari esok, karena yakinlah, akan banyak kesempatan yang datang.

Penyesalan dan ratapan saja tak akan membantu menyelesaikan apa-apa. Justru jadikan kegagalan hari kemarin sebagai batu loncatan untuk melakukan perbaikan diri. Bahkan John C Maxwell (Pakar Kepemimpinan Dunia) pernah berpesan jangan takut dengan banyaknya kegagalan yang kita alami, dia berceloteh ‘tak peduli berapa banyak susu yang anda tumpahkan, yang penting anda masih mempunyai sapinya” artinya selagi kita masih punya semangat dan optimisme kita akan bisa tetap survive.

Dalam banyak hal, justru sering kita lihat, orang yang berhasil dan sukses. Orang yang sebelumnya banyak melakukan kesalahan dan kegagalan. Itu karena mereka mampu bangkit dari kesulitan itu. Seperti pepatah “nahkoda yang hebat, tidak akan lahir dari ombak yang tenang”. Artinya seseorang yang hebat dan menjadi pemenang adalah orang yang mampu mengatasi banyaknya kesulitan dan hambatan.

Satu hal yang penting dan tak boleh diabaikan adalah, ada kalanya semangat itu redup, bahkan padam, lalu bagaimana caranya agar itu menyala dan membara terus ? Salah satu caranya, yang coba saya resapi dari nasehatnya Pak Mario teguh “ jadikan diri anda bernilai pada orang-orang disekitar anda (orang yang kita cintai)”. Karena saat semangat kita mulai meredup, atau kita lagi dalam kondisi lemah….Maka merekalah yang akan menguatkan kita. Karena mungkin bagi dunia kita hanyalah seseorang, tapi bagi mereka, kitalah dunianya…..So bersemangatlah…..KESEMPATAN ITU MASIH ADA!!!

Selengkapnya...

07 Juni 2010

JADILAH PRIBADI YANG MUDAH BERTEMAN

Sudah sedari dulu memang manusia disebut sebagai mahluk sosial. Pribadi yang membutuhkan bantuan orang lain untuk mencukupi kebutuhannya. Jika kita runut mulai dari awal, pas ketika kecil dulu, untuk sampai bisa menjadi berjalan sendiri, kita perlu bantuan orang tua. Dari mulai belajar merangkak, belajar makan, belajar mandi orang tua-lah yang membantu kita melakukan aktivitas tersebut, sampai pada akhirnya kita bisa melakukannya sendiri.

Ketika kita beranjak dewasa, dimana kebutuhan kita semakin komplek, maka tambah banyak pula kita dipaksa untuk berinteraksi dengan orang lain. Mungkin saat kita kecil, kita hanya bergaul dengan teman kecil kita satu komplek atau tetangga rumah. Tetapi menginjak sekolah dasar, kita berteman dengan jumlah yang lebih banyak, dan dengan banyak karakter. Begitu seterusnya saat kita kuliah sampai kerja kita dihadapkan dengan pergaulan dengan orang-orang yang lebih majemuk dari mulai berbeda suku, agama, budaya, bahasa, bahkan negara. Semakin luas ruang lingkup kita, entah semakin tinggi jabatan atau banyaknya orang yang dilayani, semakin banyak pula kita harus mengerti dan memahami karakter orang-orang tersebut.

Kemampuan untuk bisa mudah bergaul dengan orang lain dan gampang mendapat teman, tidak serta merta turun dari langit sebagai sebuah bakat. Bahwa memang ada sebagian orang yang sejak kecil senang berbicara atau terlihat extrovert, itu tidak lantas menjadi penentu untuk bisa sukses dalam bergaul dan mempunyai banyak teman. Atau ada mungkin dari kita atau teman kita, yang sejak kecil sangat pendiam. Bicara hanya ketika ditanya, ngomong seperlunya, dan lebih banyak membisu. Lantas pertanyaannya apakah tipe orang model begitu bisa mudah bergaul dan mendapatkan banyak teman?

Sejatinya, yang namanya bergaul dan berteman pasti akan terjadi interaksi antara kita dengan orang lain. Dalam proses interaksi itu pasti ada komunikasi, baik verbal maupun non verbal. Komunikasi verbal erat kaitannya dengan ucapan, perkataan dan tutur bahasa yang kita gunakan, sedangkan non verbal berhubungan dengan bahasa tubuh dan gerak gerik tubuh kita saat komunikasi. Kecerdasan emosional menyebut itu sebagai keterampilan intrapersonal, keterampilan untuk membina hubungan baik dengan orang lain atau keterampilan yang digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain.

Lalu artinya apa?…artinya adalah yang namanya mudah bergaul, agmpang berteman dan memiliki acceptabilitas yang tinggi, itu semua adalah keterampilan. Bagaimanapun sulitnya, yang namanya keterampilan pasti bisa dilatih. Konteknya dengan pernyataan di atas, orang yang pendiam sekalipun, bila terus berusaha berlatih dan membuka diri untuk bisa menerima orang lain, pasti akan bisa mudah juga mendapatkan teman. Kemampuan membina hubungan baik dengan orang akan semakin baik seiring dengan banyaknya orang yang kita temui dengan berbagai macam karakternya.

Mulai sekarang, jadilah pribadi menarik, yang kehadiran kita ditunggu oleh banyak orang lain. Pastikan ada sesuatu yang kurang kalau kita tidak bersama mereka, jadilah pribadi pembeda yang selalu membawa keceriaan dalam setiap pertemuan. Tunjukan kalau kehadiran kita bukan merupakan ancaman bagi mereka, tapi justru akan memberi manfaat dan keceriaan. Bukankah manusia terbaik juga yang banyak manfaatnya?

Berusahalah untuk menjadi pribadi yang menyenangkan. Pribadi yang senantiasa menyunggingkan senyum ketika bertemu. Ramah terhadap siapapun yang ditemui, hormat pada atasan dan yang lebih tua, pribadi yang asik untuk diajak untuk MKLL (Minum Kopi Lambat-Lambat), karena kalau tidak panas-panas pun orang lain akan cepat habiskan agar bisa meninggalkan kita.

Terakhir, saya percaya, bahwa dalam hidup, untuk bisa mencapai sukses. Pada dasarnya kita sedang menunggu untuk ditemukan orang lain. Karena kenyataannya, tidak jarang sebuah deal bisnis, dan kerjasama dalam usaha terjadi lewat pergaulan dan pertemanan yang sudah kita jalin. Tentu sembari kita menunggu untuk ditemukan oleh orang lain, kita juga tidak henti-hentinya mengasah kemampuan dan potensi apapun keterampilan dan profesi kita sekarang. Bersiap-siaplah untuk menjadi, karena ganjaran bagi orang yang sudah siap….ya menjadi (jadi). Semangat Sukses Selalu!!!
Selengkapnya...

13 November 2009

Bahagia Tanpa Syarat

Tulisan ini saya mulai dengan cerita tentang seorang tokoh bernama Nasrudin. Pada suatu hari, Nasrudin mencari sesuatu di halaman rumahnya yang penuh dengan pasir. Ternyata Nasrudin sedang mencari jarum. Melihat Nasrudin yang sedang kebingungan, tetangganya merasa kasihan, akhirnya ia ikut membantu untuk mencari jarum tersebut. Tetapi setelah sekian lama mereka mencari, jarum itu tidak ditemukan juga.

Dengan nada penasaran, tetangganya bertanya “memang jarumnya jatuh dimana?”. Dengan enteng Nasrudin menjawab “jarumnya jatuh di dalam”. Lalu tetangganya bertanya lagi “kalau jatuhnya di dalam kenapa mencarinya di luar?”. Nasrudin menjawab dengan ekspresi tanpa dosa ”karena di dalam gelap, di luar kan terang”


Cerita di atas bisa menjadi cermin bagi kita, seperti itulah yang sering kita lakukan untuk mencari kebahagiaan dalam hidup. Sering kali kita mencarinya di luar, sehingga akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Sedangkan daerah dimana kebahagiaan itu bias ditemukan justru luput dari pantauan kita.

Terlalu sering kita larut dalam perbandingan diri kita dengan orang lain. Yang Nampak seolah-olah adalah rumput halaman orang lain selalu lebih hijau. Seakan hati tidak terima kalau tetangga, teman atau saudara kita mendapatkan pencapaian yang lebih baik dari kita. Berat rasanya hati untuk bisa bahagia kalau melihat hal tersebut. Apalagi bila ingat masa lalu posisi mereka di bawah kita, baik secara intelektual dan materi.

Ada lagi satu hal yang berbahaya dan bisa menyebabkan seseorang susah bahagia maupun mencapai kesuksesan. David J Schwartz menyebutnya itu sebagai penyakit dalih, banyak diderita oleh orang yang tidak bahagia dan tidak sukses. Karena semakin banyak syarat yang kita tentukan untuk bahagia maka akan semakin sulit bagi kita untuk bahagia. Semisal, kita akan merasa bahagia kalau sudah punya rumah sendiri, sehingga kita bisa tenang untuk menempatinya. Nyatanya setelah kita punya rumah, kita juga tidak lantas bahagia karena kebahagiaan kita sudah berbeda lagi ukurannya. Begitu seterusnya sampai kita tidak pernah menemukan kebahagian karena syarat yang kita tetapkan terlalu banyak.

Padahal mungkin kebahagiaan itu tidak jauh dari diri kita, Cuma terkadang banyak orang tidak sadar dengan itu. Coba kita tengok akan diri kita sekarang!!! Apa yang kurang dari kehidupan kita sekarang? Hidup ditemani orang-orang yang sangat menyayangi kita. Ada orang tua yang bekerja keras banting tulang hanya untuk membahagiakan kita sebagai anaknya. Ada saudara yang akan membantu kita kalau kita mendapat kesusahan. Ada sahabat yang bisa kita ajak berbagi persoalan dalam hidup, seberat apapun itu. Dan bagi kita yang sudah punya amanah berupa anak, jaga dan rawat dengan baik, bukankah tawanya, candanya atau mungkin tangisnya bisa membuat kita bahagia.

Jadikan semua itu menjadi sumber kebahagiaan kita. Merekalah tempat kita untuk kembali ketika kita dihadapkan kesulitan dalam hidup. So mulai sekarang, bersyukurlah atas apa yang sudah diberikan Tuhan kepada kita, berupa orang-orang terbaik yang akan menemani kita. Mereka lebih berharga dari materi yang kita punya. Tak ada alasan lagi untuk tidak bahagia…optimislah anda memiliki semuanya….maka berbahagialah..
Selengkapnya...

27 Juli 2009

MENANTI KEAJAIBAN ITU TIBA

“Keajaiban itu lahir dari ibu yang bernama kesulitan dan ayah yang bernama upaya.” Mario Teguh.

Hampir seluruh negara didunia saat ini sedang dilanda krisis ekonomi global. Krisis yang bermula dari negara adikuasa Amerika Serikat telah merusak stabilitas ekonomi dihampir seluruh negara. Layaknya seperti virus, krisis ekonomi ini cepat menyebar ke seluruh belahan penjuru dunia. Indonesia pun tidak luput dari serangan ‘virus’ yang membahayakan ini. Bila ini tidak cepat diatasi, kondisi ini akan berpengaruh terhadap kesetabilan perekonomian kita. Pemerintah harus berupaya sekuat tenaga untuk bisa membendungnya, paling tidak, derasnya laju hantaman krisis ekonomi global bisa ditahan agar dampaknya tidak semakin parah.



Dalam kondisi krisis, masyarakat lapisan bawah (Wong Cilik) akan menjadi pihak yang sangat terpukul apabila pemerintah gagal mengatasi kondisi ini. Carut marut yang selama ini meraka rasakan akan semakin bertambah pelik dengan datangnya krisis. Alih-alih bisa bisa keluar dari kemiskinan yang sudah dirasakan sejak lama, justru makin terpuruk oleh keadaan.

Kondisi ekonomi di seluruh dunia memang sulit, tapi mari kita coba dari sudat pandang yang bisa lebih mencerahkan. Coba kita sedikit flashback pada masa-masa dimana kita dihadapkan pada kesulitan. Tentu kita masih ingat betul krisis ekonomi yang menimpa pada negara kita ditahun 1998. Tapi akhirnya lambat laun kesulitan itu bisa diatasi, dan kita bisa beradaptasi serta akhirnya keluar dari kondisi sulit itu.

Begitu juga dalam kehidupan pribadi, kita pernah berkali-kali menghadapi kesulitan dan ujian dalam hidup. Tapi coba kita lihat sekarang, kita masih ada dan masih berdiri kokoh dalam melewati setiap kesulitan yang datang. Selama matahari hari masih terbit dari timur dan tenggelam dari barat, selama embun pagi masih menetes dipagi hari, dan selama raga ini masih bisa bernafas, kita masih mempunyai kesempatan untuk bisa merubah keadaan dengan semangat pantang menyerah dan berusaha untuk keluar dari kesulitan. Yakinlah bahwa sesungguhnya setelah kesulitan, pasti akan datang kemudahan. Mengutip ucapan Gede Prama “ketika kita sedang dilanda kesedihan, percayalah bahwa di ruang tamu ada yang sedang menunggu, yaitu kebahagiaan.”

Sebetulnya ketika kesulitan datang, itu pertanda bahwa cara-cara yang kita gunakan sudah tidak tepat lagi. Karena kalau apa yang kita lakukan benar, pasti kita tidak akan bertemu dengan kesulitan itu. Kalau kita ikhlas dan sadar menerima itu berarti setiap kesulitan adalah perintah agar kita menyegerakan pembaharuan diri. Bagi orang yang melihat bahwa setelah kesalahan akan datang hukuman, maka kesulitan yang datang akan dianggap sebagai sarana untuk menghukum dirinya, dampaknya dia akan bersedih hati dan mengulangi kesalahannya. Tetapi bagi orang yang menganggap setelah kesalahan akan datang hadiah dari disadarinya kesalahannya, maka dia akan memperbaiki dirinya dengan ikhlas.

Tuhan kadang menempatkan kita pada posisi yang sangat sulit, agar kita menyadari bahwa tidak ada yang sulit bagi Dia. Kita sering tidak berserah kepadaNya sampai kita tidak memiliki apa-apa. Dalam kondisi sulit yang dialami hampir seluruh negara di dunia, yakinlah itu hanya masalah yang bersifat statistik, dan ketika kita berbicara statistik, maka hitungannya akan rata-rata. Tapi dalam kondisi sesulit apapun yakinlah bahwa rejeki itu bersifat pribadi, apapun kesulitan yang kita alami dalam masalah ekonomi, kita harus tetap bersemangat dan berpikir positif, jadi disaat orang lain mengeluh, merintih, meratap dan menyalahkan kepada banyak hal, ini kesempatan kita untuk berdoa dan berusaha dengan keras, maka hal itu akan menjadi pembeda kita dengan orang lain di hadapan Tuhan. Sehingga dalam ekonomi yang sulit, rejeki kita tetap pribadi dan berbeda dengan orang lain, maka perbaikilah hubungan pribadi kita agar kita semakin dekat denganNya. Yakinlah bahwa ketika Tuhan berpihak pada kita, tidak ada yang tidak mungkin.

Karena Tuhan akan memberi rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka dan hanya dengan upaya maka kita akan bisa merubah nasib maka mulai dari sekarang berusahalah lebih keras lagi. Pantaskanlah diri kita untuk bisa mendapatkan apa yang pantas kita dapatkan dengan cara melakukan hal-hal yang sekarang kita anggap kecil dengan kesungguhan yang besar. Dalam kondisi sesulit apapun cobalah berdiri lebih gagah, duduk lebih tegak, mengangguklah lebih anggun dan tersenyumlah lebih ramah. Kalau kita memilih menjadi pribadi yang pantas mendapatkan keajaiban, bukan hanya keajaiban itu yang akan datang pada kita, tapi kita akan menjadi pengundang keajaiban bagi diri dan lingkungan kita. Bila kita percaya maka kita akan melihatnya.

Selengkapnya...

01 Juni 2009

HIDUPLAH DALAM KEHIDUPANMU

“Dalam hidup ada kehidupan. Kita harus mampu menghidupkan kehidupan ini agar kita bisa benar-benar hidupdalam menjalani hidup kita. Setelah kita benar-benar hidup, kita dapat menghidupkan kehidupan orang lain sehingga hidup kita tidak sekedar hidup-hidupan.”Adi W. Gunawan


Tulisan ini saya mulai dengan untaian kata filosofis yang didapat dari salah satu buku best seller milik Adi W. Gunawan. Dia salah satu guru imajiner dari sekian banyak orang-orang hebat yang saya kagumi, dia sendiri senang menyebut dirinya sebagai Re-Educator dan Mind Navigator. Ucapan dalam buku dia tersebut jelas cukup menggelitik saya untuk bisa merenungkan kembali dan bertanya pada diri tentang apa itu hidup? Mengapa saya hidup? Untuk apa saya hidup?

Mencoba menjawab pertanyaan tersebut di atas dengan menggunakan pendekatan akademis yang tersisa dari proses pendidikan di kampus dulu semasa kuliah, hasilnya ternyata masih belum bisa menjawab pertanyaan sesulit itu. Maklum selama dikampus dosen saya banyak mengajarkan tentang pengetahuan dan keterampilan teknis yang masih bersifat semu dan maya. Konsekuensi logisnya tidak mengherankan jika saya masih bingung dalam menghadapi dunia yang riil dan tidak jarang saya merasa terasing dengan diri sendiri.

Sistem pendidikan yang ada sekarang masih belum mampu untuk bisa menghasilkan lulusan yang bisa menjawab pertanyaan diatas. Apalagi untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai kualitas dan mental yang kuat, serta menghasilkan manusia-manusia yang bijak dan bisa bermanfaat buat sesama. Maka dalam kontek ini tidaklah mengherankan kalau Topatimasang (1998) mengatakan bahwa pendidikan tidak ubahnya seperti candu yang memabukan, membuat banyak orang terlena dan terbius sehingga tidak bisa mengenal realitas yang ada disekitarnya. Tentunya ini bertolak belakang dengan apa yang inginkan oleh salah satu tokoh pendidikan dunia yaitu Paulo Freire yang berpendapat bahwa tujuan akhir dari upaya proses pendidikan adalah memanusiakan manusia (humanisasi) yang berarti pemerdekaan atau pembebasan manusia dari situasi batas yang menindas dari kehendak kita.

Dalam prakteknya pendidikan yang kita dapat selama ini belum mengakui sepenuhnya bahwa manusia itu sosok yang unik, artinya sosok yang satu akan berbeda dengan sosok yang lain. Buktinya untuk bisa mengukur kecerdasan seseorang masih saja menggunakan kecerdasan tunggal yaitu kecerdasan inteletual, dengan melihat dari ketrampilan menghitung, merinci, dan menganalisis. Tidak heran kalau nilai raport dan IPK (Indek Prestasi Kumulatif) menjadi ukuran kebanggaan yang mutlak bagi anak didik dan orang tua sehingga tidak jarang banyak yang menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan nilai yang bagus. Hal inilah yang menyebabkan Adi W. Gunawan mengatakan dengan bahasa provokatif disalah satu artikelnya bahwa sekolah hanya dirancang untuk menghasilkan orang-orang gagal.

Dalam kehidupan ini, ternyata secara tidak sadar kita sering merasa minder dengan kelemahan yang dimiliki. Dan celakanya proses itu muncul dari interaksi dengan lingkungan terdekat kita. Lingkungan dalam keluarga, pertemanan dan sekolah sering menjadi titik awal rasa minder dan lemah itu muncul. Sebagai contoh kecil, ketika kita dulu sekolah pernah mengalami kesulitan dengan salah satu pelajaran, semisal bermasalah dengan pelajaran matematika. Ketidakmampuan kita dalam menyelesaikan soal-soal matematika membuat kita berpikir bahwa ”Akulah anak paling bodoh di kelas ini!” atau ”Akulah siswa yang pantas gagal!”. Bahkan tidak jarang ucapan yang bernada pengecilan terhadap kemampuan anak itu berasal dari orang tua dan guru.

Kondisi di atas bila dipelihara terus akan sangat berbahaya, ini akan menyebabkan seseorang terpenjara mentalnya seumur hidup. Karena ketika persepsi ketidakmampuan kita terus dipelihara, bahkan didukung oleh lingkungan terdekat kita, maka lama kelamaan ini akan menjadi belief system yang akan mengakar kuat, sehingga pada akhirnya akan menempel dan mengendap pada alam bawah sadar kita. Keadaan ini akan membelenggu dan membenamkan setiap potensi besar kita untuk diaktualisasikan. Jelas kalau sudah pada tahap ini tidak mudah untuk “disembuhkan”. Memerlukan upaya yang cukup keras dan lumayan rumit untuk bisa mengembalikan pada kondisi semula. Ibarat sebuah komputer yang sudah terkena virus ganas, maka harus cepat-cepat diinstal ulang, dengan menghilangkan program-program lama diganti dengan yang baru.

Berbicara masalah cerdas atau tidak cerdasnya seseorang, jawabannya mungkin ada pada hasil penelitian Howard Gardner, dia menemukan bahwa dalam diri seseorang terdapat kecerdasan majemuk, artinya terdapat beberapa kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Beberapa jenis kecerdasan tersebut adalah linguistic, logical-mathematical, bodily-kinesthetic, spatial-visual, musical, intrapersonal, dan interpersonal. Penemuan tersebut disempurnakan oleh Daniel Goleman dengan hasil penelitian yang cukup menggemparkan dan merubah tatanan nilai yang dianut serta dipercaya sebelumnya, dia mengatakan bahwa kecerdasan intelektual hanya berpengaruh 20% terhadap kesuksesan dalam hidup. Selebihnya itu ditentukan oleh kecerdasan lain yaitu kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional itu sendiri merupakan kemampuan untuk memahami diri sendiri sehingga bisa memahami orang lain dan bisa membina hubungan baik dengan orang lain. Kecerdasan inilah yang sangat dibutuhkan seseorang dalam menghadapi kesulitan dalam hidup.

Hanya saja sangat disayangkan, karena banyak orang yang tidak mengetahui dan menyadari hal ini. Kelemahan yang kita miliki telah membutakan mata hati kita untuk mengali potensi dan kekuatan yang telah diberikan Tuhan pada kita. Kita sering fokus untuk membanding-bandingkan kelemahan kita dengan kelebihan yang dimiliki orang lain. Mengutip ucapan Mario Teguh bahwa ketika kita berfokus pada satu hal, maka kita akan tumbuh pada hal tersebut. Jadi ketika hanya berfokus pada kelemahan yang dimiliki hasilnya kita akan semakin menyesali diri dan merasa inferior. Sehingga ketika kesulitan datang, kita sudah buru-buru mengatakan bahwa kita tidak mampu, ini terlalu berat buat kita, ini tidak mungkin untuk diselesaikan. Ketika perasaan ini muncul, maka sebenarnya kita telah mati dalam kehidupan ini.

Kembali pada ucapan indah diatas, ternyata banyak diantara kita belum benar-benar hidup dalam kehidupan, ini bisa dilihat dengan belum maksimalnya atau bahkan masih terkuburnya potensi besar dalam diri kita. Jelas ini tugas kita untuk bisa membangunkan setiap kemampuan terpendam yang masih tertidur, dengan harapan kita akan semakin merasa percaya diri dan bersyukur pada Tuhan karena telah diberi kemampuan sehebat ini. Sehingga tugas kita tinggal satu lagi, yaitu memberi manfaat dari kehadiran kita dengan membantu dan menolong orang lain untuk bisa menghidupkan kehidupannya. Karena ketika kita berhasil membantu orang dalam menemukan dan mengembangkan potensinya, maka kehadiran kita bisa memberi manfaat buat orang lain. Bukankah orang hebat dan terbaik itu, adalah orang yang paling bermanfaat. SALAM SUKSES !!!
Selengkapnya...

05 April 2009

SAAT KITA MERASA LEMAH

Pernahkan anda mengalami perasaan letih dan tidak berdaya? Tentu perasaan tersebut bukan ditujukan untuk fisik kita melainkan untuk kondisi mental dan jiwa kita. Pertanyaan itu juga muncul dalam benak karena didasari oleh keyakinan bahwa setiap orang pasti pernah merasa atau berada dalam kondisi ini. Karena pentingnya menyikapi kondisi ini, maka saya terpanggil untuk menulis topik ini.

Adalah suatu hal yang biasa ketika manusia dalam hidupnya dihadapkan beberapa persoalan. Ada sebagian dari kita yang merasa putus asa dan tidak sanggup lagi menghadapi semuanya. Sehingga tidak jarang kita kehilangan semangat untuk hidup di dunia ini. Pikiran kita seolah tak mampu lagi untuk berpikir dengan jernih hanya sekedar untuk mencari solusi atas masalah yang belum menemukan titik temunya.

Kondisi lemah akibat dari masalah yang belum terselesaikan sebenarnya adalah perintah bagi kita untuk melakukan upaya-upaya yang baru. Karena kalau tindakan atau apa yang kita kerjakan tepat, kita tidak akan mungkin bertemu dengan kesulitan ini. Anggapkan kesulitan yang datang sebagai petunjuk untuk dilakukannya tindakan dan cara-cara yang baru.


Kadang kita tidak sadar bahwa pada saat kita berada dalam kondisi sulit, itu sebenarnya kita semakin didekatkan dengan datangnya keajaiban. Bukankah keajaiban itu datang dari ibu yang bernama kesulitan dan ayah yang bernama upaya. Karena itulah jadikan setiap kesulitan yang datang untuk dijadikan lecutan agar kita bersemangat lagi dalam melakukan upaya. Karena saat itulah keajaiban itu semakin dimungkinkan oleh yang Maha memungkinkan untuk terjadi. Karena kalau menurut Dia jadi maka jadilah.


Sebenarnya persoalan akan semakin mudah bila kita hanya mengambil posri yang bisa kita lakukan, selebihnya serahkan semuanya ke Tuhan. Biar dia yang mengambil alih semuanya, kita hanya diwajibkan untuk berusaha. Tetapi kita harus berhari-hati dengan kualitas usaha kita, jangan sampai kita hanya terjebak pada kata usaha, tanpa menghiraukan kualitas dari usaha yang kita lakukan. Bukankan ada janji Tuhan bahwa upaya merupakan pengubah nasib. Maka lakukan setiap upaya dengan keras dan sepenuh hati sehingga itu bisa menjadi tanda buat Beliau untuk menjawab doa kita.


Perjalanan kehidupan sudah membuktikan bahwa banyak orang-orang besar yang tumbuh dari kesulitan hidup. Kuncinya mereka tidak menyerah pada nasib yang ada. Mereka tidak pernah mengeluh dengan kondisi yang ada, karena mereka melihat ada banyak harapan untuk hidup lebih baik bila berusaha dengan baik, tanpa harus mengandai-andai mendapatkan bantuan dari langit, jadi anak orang-kaya, terlahir di kaum bangsawan atau apapun itu.

Sekarang lihatlah ke langit, mintalah untuk diberi kekuatan dan kewenangan untuk bisa melewati setiap kesulitan yang ada. Mintalah bahu yang kuat untuk menanggung beban yang lebih berat lagi, jadilah bahu yang kuat untuk menanggung kehidupan banyak orang. Sehingga ketika kesusahan itu datang, akan ada banyak orang yang memberi semangat dan mengharapkan kita untuk bangkit lagi. Sehingga ketika kondisi letih dan lemah pun ada banyak orang yang akan menjadi topangan dan sandaran untuk kita semangat lagi. Selamat Mencoba Ya….
Selengkapnya...

23 Februari 2009

KENAPA HARUS BERUBAH???

Sebelum mengambil judul ini, saya sempat tersenyum kecil, maklum judul ini mengingatkan saya dengan judul sinetron yang dulu pernah diputar di SCTV. Kenapa Harus Inul??? Itulah sinetron yang pernah melambungkan nama Inul sebagai pedangdut kesohor. Terlepas dari banyak kontroversi yang sempat menghampirinya, toh ending ceritanya kita sudah tahu semua bagaimana inul sekarang.

Tentu bukan masalah pribadi inul yang akan saya bahas disini. Hanya untuk mencoba mengkorelasikan antara masalah yang akan saya bahas dengan kondisi riil yang pernah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bila melihat kasus di atas, sebenarnya inul lah yang telah merubah kondisi wajah “dangdut” Indonesia menjadi sekarang ini. Dan semua tahu bahwa walaupun kondisi ini menyebabkan banyak kontroversi muncul disana sini, tapi toh akhirnya musik dangdut kita sudah mulai bergeser haluan. Itulah salah satu contoh perubahan, terlepas orang menilainya itu baik atau buruk.

Seperti itulah perubahan, pertama kali muncul tidak jarang menimbulkan protes dan perdebatan. Bagi orang yang sudah merasa nyaman dengan kondisi dan sistem yang ada, untuk bisa menerima perubahan sangat sulit. Karena meraka sudah terlampau asyik dengan zona kenyaman yang mereka rasakan, walupun mungkin zona nyaman itu sendiri tidak selalu membuat nyaman. Adakalanya zona ini hanya sebatas kondisi yang sudah mereka ketahui, dan hanya karena mereka sudah tahu inilah sehingga membuat mereka enggan untuk beranjak dari tempat tersebut.

Kehidupan selalu ditandai dengan perubahan. Kita bisa melihatnya pada diri kita sendiri. Dulu sewaktu masih bayi, hidup kita tergantung pada orang lain. Kemudian kita menjadi seorang anak yang belajar jalan dan sesekali terjatuh, lalu berlari dengan kedua tangan dan kakinya. Setelah itu menjadi sosok dewasa yang akan menghadapi bermacam-macam persoalan dalam hidup. Kadang kita tertawa dan senang, kadang hidup susah dan menangis.

Perubahan adalah pertanda kehidupan. Dalam realitas sosial perubahan sering ditandai dengan adanya ketidaknyamanan atas kondisi sekarang, perubahanan juga selalu menghadirkan asa. Indonesia sempat mengalami seperti itu beberapa kali, salah satunya adalah pada tahun 1998. Ketidaknyaman dengan kondisi yang ada menyebabkan sebagian orang, terutama mahasiswa, menjadi motor dan agen perubahan dalam era reformasi. Walaupun kondisi tersebut harus dibayar mahal dengan matinya beberapa mahasiswa yang tertembak peluru serta kerugian material yang tidak sedikit.

Perubahan juga menimbulkan harapan. Meski kadang menakutkan, perubahan ini tentu menjanjikan ekspektasi. Adanya harapan untuk mencapai hidup yang lebih baik yang menyebabkan seseorang berani meninggalkan kondisi lama menuju kondisi yang baru. Tentu walaupun kadang mahal bayarannya, artinya ada banyak rintangan, tantangan serta pengorbanan yang tidak sedikit, tapi tidak membuat sebagian orang gentar. Karena perubahan selalu memberi warna tersendiri dan memberikan iming-iming yang cukup menarik untuk digapai.

Mungkin kita bertanya apakah kita masih harus berubah, bila merasa apa yang kita imiliki sudah sesuai dengan yang diinginkan, lalu buat apa perubahan itu?? Masih perlukah?? Jawabannya adalah tentu masih perlu, justru inilah yang dinamakan paradok dari perubahan, dimana perubahan harus dilakukan bukan pada saat kritis, tapi perubahan harus dilakukan pada saat kita sedang berada di atas atau di dalam kondisi yang baik. Agar kita bisa tetap mempertahankan bahkan meningkatkan kondisi dan posisi tersebut tersebut. Karena kalau tidak bisa adaptif dengan perubahan, maka kita akan terseret oleh perubahan tersebut. Jangan sampai ucapan Jim Collins terjadi pada kita, dalam studinya ia pernah mengatakan “Good is the Enemy of Great” bahwa kondisi yang baik (good) adalah musuh yang sering menghalangi kita untuk berevolusi dan memasuki kondisi yang lebih baik (great). Semoga tidak terjebak ….Salam Sukses!!!

Selengkapnya...

16 Januari 2009

SEMANGAT ITU HANYA SESAAT

Sengaja saya menahan hasrat untuk tidak menulis dulu artikel ini di awal bulan januari, sampai saya menemukan suasana hati yang cocok untuk bisa dijadikan landasan dalam tulisan kali ini. Di tengah gegap gempita dan gemuruh suasana tahun baru, ingin rasanya saya larut dalam euforia kesenangan hanya sekedar untuk merayakan detik-detik pergantian tahun. Tak tergambar rasanya semangat yang membara yang menyelinap dalam dada kala itu, guna menyongsong tahun baru, walaupun banyak orang bilang tahun ini merupakan tahun krisis. Tapi toh hal ini tidak menyurutkan banyak orang (termasuk saya) untuk tetap optimis menyambut tahun baru ini.

Tidak tahu mengapa ada perasaan sumuringah menjelang datangnya tahun baru, ada semangat baru yang mampir dalam diri untuk bisa melakukan sesuatu yang lebih dari tahun sebelumnya. Beberapa impian, target dan resolusi pun kembali digulirkan untuk bisa dicapai. Walaupun secara tidak sadar ternyata ada beberapa janji lama yang ingin dilakukan, yang sekarang masuk lagi dalam agenda tahun berjalan. Pantas saja kalau Mario Teguh bilang “kadang kita yang menyambut tahun baru ini dengan kesungguhan baru tapi masih dengan janji lama”. Sebagai contoh berapa banyak orang yang berjanji ingin berhenti merokok tapi sampai sekarang tidak bisa. Bahkan yang lucu saya pernah mendengar ada yang berkomitmen untuk mengurangi merokok, lalu dimana letak kesungguhannya kalau janjinya saja masih setengah-setengah.

Banyak orang yang merayakan tahun baru, hanya merayakan harinya saja. Tanpa pernah berpikir untuk merubah kemampuan yang dimiliki. Tidak ada transisi mental yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi kesulitan hidup yang semakin komplek. Banyak yang terjebak ke dalam kegembiraan sesaat, dan melupakan permasalahan untuk sementara waktu hanya untuk menyambut tahun baru. Konsekuensinya tidak jarang banyak orang menyambut tahun baru hanya bermodalkan sedikit semangat dan masih dengan kemampuan lama.

Kemeriahan tahun baru ternyata tidak berlangsung lama, semangat yang menggelora pun ternyata lenyap tak ketahuan batang hidungnya, ketika kita sudah dihadapkan dengan permasalahan hidup sehari-hari. Semangat kemeriahan tahun baru seolah tak membekas sedikit pun dalam menghadapi hari hari selanjutnya. Rencana, impian dan angan-angan yang sempat disemaipun menguap begitu saja tertelan dalam rutinitas harian yang menjemukan.

Lantas kenapa semangat dalam diri ini hanya mampir sebentar ?, seperti halte yang dijadikan tempat peristirahatan sementara untuk menunggu bus datang. Kemana teriakan penuh semangat dan nyaringnya bunyi terompet yang kemarin hadir menyeruak pada saat detik-detik tahun baru, lantas kemana hilangnya optimisme yang menggunung waktu itu….Sedemikian besarkah angin yang meniup, sampai-sampai semuanya tersapu begitu saja. Dimana letak kesalahan dari semua ini???

Tanpa harus menanya rumput yang bergoyang pun, harusnya kita bisa mengidentifikasi kekeliruan yang kita lakukan saat merayakan tahun baru tersebut. Ingatkah kita ketika melakukannya dengan kemeriahan dan bersenang-senang serta menghamburkan banyak uang hanya untuk satu malam. Tidak kah kita mencoba untuk introspeksi diri, tentang apa saja yang sudah dilakukan kita ditahun sebelumnya. Pernahkah kita berpikir untuk merinci apa-apa saja yang sudah kita kita kerjakan, dan menghitung berapa banyak yang belum kita dapatkan. Atau yang lebih jauh lagi, sudahkan kita merancang strategi apa yang akan diterapkan untuk bisa mencapai target di tahun baru. Bukan malah larut dalam kemeriahan dan hingar bingar pesta tahun baru. Jelas saja tidak ada nilai-nilai yang bisa kita dapatkan, lebih-lebih solusi yang kita butuhkan. Bukan kah yang terpenting dalam hidup adalah bagaimana kita memaknai setiap proses yang kita jalani. Tidak penting kegagalan dan kesuksesan itu datang, karena yang jauh lebih penting adalah bagaimana memaknai hal tersebut, serta bagaimana membuat hal tersebut menjadi media pembelajaran buat kita.

Semangat itu harusnya masih ada, ketika ada sebuah dorongan yang besar untuk mencapainya. Mirip seperti slogan salah satu partai peserta pemilu, tapi kita plesetkan sedikit sehingga bunyinya “semangat itu masih ada”. Terus bagaimana cara menumbuhkannya? Ada dua cara yang bisa kita coba untuk dilakukan. Yang pertama, bayangkan anda akan sangat bahagia bila apa-apa yang menjadi keinginan kita itu tercapai. Dan yang kedua, banyangkan juga apabila impian-impian kita ditahun baru ini tidak tercapai. Dan jangan lupa pastikanlah setiap apa-apa yang kita lakukan dan kita capai, semuanya bisa memberi nilai tambah buat orang lain. Sehingga kalaupun ada ketakutan yang datang, pastikan kalau ketakutan itu bukan karena kita takut akan kekurangan diri sendiri, tetapi takutlah karena apa yang kita lakukan dan kita dapatkan tidak bisa melebihkan bagi orang lain…Salam Super
Selengkapnya...

e-book motivasi gratiss