SOSOK PEMBELAJAR YANG SENANG BERMIMPI
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

23 Mei 2015

TIDAK ASAL KERJA

"Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja." 
 Buya Hamka


Bila dalam hidupmu, kamu masih bisa bekerja. Maka berbahagialah. Karena di luar sana tidak banyak orang yang masih seberuntung kamu. Coba kita tengok realita yang ada sekarang, dimana saat ada job fair, disitu pasti banyak sekali pelamar yang berdesak-desakan mencari pekerjaan. Rasio perbandingannya mungkin sudah tidak wajar lagi antara orang atau perusahaan yang menyediakan lapangan pekerjaan dengan si pencari kerja. Sehingga tidak heran mengenai pengangguran atau pencari kerja ini menjadi isu yang cukup meresahkan. Tidak hanya untuk pemerintah sebagai pengelola kehidupan bernegara. Tapi juga untuk masyarakat yang ingin merubah kehidupannya

Nyatanya sangat ironis memang, saat di luar sana banyak orang berbondong-bondong, mencari pekerjaan. Di tempat lain, dimana orang sudah memiliki pekerjaan. Banyak dalam pekerjaannya hanya sebatas rutinitas yang menjemukan. Bekerja menjadi sebuah beban atau siksaan yang menakutkan. Ingin segera bertemu dengan hari jumat. Sampai ada istilah TGIF (Thank God it’s Friday). Dan menghawatirkan saat besok sudah hari senin. Ada juga istilahnya untuk hari senin dengan sebutan I Hate Monday.

Sejatinya, bekerja tidak hanya sebatas alat untuk mencukupi kebutuhan. Lebih dari itu bekerja adalah ibadah bila dilakukan dengan keikhlasan dan sukacita. Bekerja juga bagian dari pengabdian dan pelayanan. Kata seorang kawan, bekerja itu tidak harus selalu di ruang yang dingin, fasilitas yang super mewah dan penghasilan yang melimpah. Bekerja apapun profesinya apabila sesuai panggilan hati adalah cara kita untuk menikmati dan merayakan kehidupan. Maka jadilah pelukis, seniman, petani, nelayan, pengamen, dokter, atau auditor. Ikuti dorongan dan hasrat hati anda untuk menjadi apapun yang diinginkan. Tidak harus jadi PNS semua atau bekerja di BUMN ternama.

Teringat dulu alm. ayah saya yang sangat bangga dengan pekerjaannya. Bekerja sebagai guru SD yang bayarannya delapan koma, artinya tanggal delapan sudah koma. Tidak berlebihan rasanya karena saat itu memang gaji guru SD tidak sebesar seperti sekarang. Sekarang kabarnya sudah ada remunerasi dan beberapa tunjangan lainnya yang membuat profesi ini lebih sejahtera. Namun dulu, dengan kondisi yang serba keterbatasan pun, ayah tetap semangat untuk menekuni profesinya. Tiap hari dia harus berjalan belasan kilometer untuk mencapai tempat mengajarnya. Beberapa kali dia tertahan untuk pulang karena harus melewati sungai yang saat itu sedang banjir. Baginya bekerja dengan kondisi tersebut tidak masalah. Bekerja seperti panggilan jiwa untuk pengabdian dan memberi pelayanan ke sesama. Tidak ada imbalan yang setimpal yang dia harapkan. Setidaknya saya sebagai anaknya tidak pernah mendengar keluhan itu dari mulutnya. Cukup dengan mengantarkan anak didiknya berprestasi, sudah cukup membuat dia berbangga hati.

Belajar dari Ayah, bagi saya seorang laki-laki, bekerja itu adalah kehormatan. Kerja menjadi alat bukti dan wujud kecintaan pada keluarganya. Laki-laki yang bertanggungjawab, dia akan rela bekerja banting tulang untuk bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Menjadi tulang punggung dan harapan buat keluarga itu sudah menjadi fitrah seorang laki-laki. Makanya saya berpesan kepada para wanita, jangan terlena pada pria yang hanya bisa berkata-kata. Bagaimana bisa percaya pada pria yang mengatakan akan menerjang lautan, mengarungi samudera dan mendaki gunung yang tinggi, tapi untuk sekedar bangun pagi dan berangkat kerja saja masih malas.

Bekerja adalah alat untuk merubah nasib kehidupan. Rezeki baik tidak mungkin dikirimkan pada orang yang hanya berpangku tangan. Bekerja menjadi jembatan yang menghubungkan rezeki dari langit bisa turun ke bumi. Dan sebaik-baiknya pekerjaan adalah yang dilakukan oleh dorongan hati. Meminjam kalimat Kahlil Gibran " Dan segenap pekerjaan adalah sia-sia, kecuali jika ada kecintaan." Masih menurut Kahlil Gibran kerja adalah cinta yang mengejawantah. Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta, hanya dengan enggan, maka lebih baiklah jika engkau meninggalkannya. Lalu mengambil tempat di depan gapura kuil, meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan sukacita.

Hanya saja, saat kita bekerja keras dalam pekerjaan. Dengan dalih untuk mencukupi kebutuhan anak istri. Jangan sampai, karena pekerjaan kita, keluarga yang jadi korban. Saking sibuknya kita bekerja, kita mengabaikan kesehatan kita. Kita juga menjadi lalai untuk memberi perhatian pada hal-hal kecil. Kita terjebak dalam kondisi dimana kita sibuk memeras keringat dalam bekerja, tapi kita lupa menyisihkan waktu untuk keluarga. Kesuksesan yang kita raih pun akan menjadi sia-sia. Bila kita bekerja di perusahaan, sepenting apapun posisi kita, saat kita berhalangan hadir, pasti ada yang bisa menggantikan. Atau semisal kita berhenti pun, pasti dengan mudah perusahaan akan mendapatkan pengganti kita. Tapi buat keluarga kita, posisi dan peranan penting kita dalam keluarga tidak akan pernah tergantikan. Karena mungkin bagi dunia anda hanya dianggap seseorang, tapi buat keluarga anda lah dunia mereka.
Selengkapnya...

13 Februari 2015

PENTINGNYA PERNAH GAGAL DALAM KEHIDUPAN

“Banyak kegagalan dalam hidup ini karena orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah” Thomas Alva Edison

Anda Bukan Orang yang Pertama
Kegagalan apapun bentuknya tidaklah mengenakan. Besar atau pun kecil kadar dari suatu kegagalan tersebut, tetap saja membuat perasaan kecewa. Dalam perjalanan hidup sampai menjadi sekarang, mungkin sudah tidak terhitung berapa banyak kegagalan-kegagalan yang kita alami. Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang nyatanya kita tetap harus melewati sebuah patahan dalam kehidupan itu. Seperti dalam kehidupan sehari-hari. Banyak kegagalan-kegagalan kecil yang kita alami. Pada saat disekolah, entah berapa kali kita pernah mendapatkan nilai yang kurang memuaskan. Kita dibuat kecewa karenanya, apalagi orang tua kita yang sudah membiayai kita. Kegagalan yang lebih sentimentil tentu saat kita gagal (ditolak) mendapatkan pasangan yang benar-benar ingin kita dapatkan. Padahal kita sudah berharap banyak dan sudah melakukan perjuangan yang hebat.

Semua kegagalan itu hampir semua orang pernah mengalaminya. Perasaan kecewa, kesal dan marah sangat wajar menemani kita saat itu. Tapi coba pikirkan, terhadap kegagalan itu ternyata anda bukan orang yang pertama mengalaminya. Kalau tidak percaya coba saja cek disekitar kita. Apapun kegagalan yang dialami, kita bukan orang pertama dan juga bukan orang terakhir yang mengalaminya.

Pentingnya Kegagalan
Kegagalan layaknya seperti obat yang terasa sangat pahit dan tidak enak di lidah, tapi penting untuk dikonsumsi agar kita bisa sembuh dari penyakit. Dari kegagalanlah kita bisa belajar dan introspeksi apa yang sudah dilakukan benar atau tidak. Gagal mengajarkan kita bahwa tidak semua yang diinginkan itu bisa diperoleh dengan mudah. Perlu kerja keras dan effort yang gigih untuk mencapai itu semua. Kegagalan seperti harga yang harus dibayar, kegagalan-kegagalan itu bisa dikonversi layaknya mata uang untuk bisa ditukarkan dengan kesuksesan. Tentu dengan tidak menyerah saat kegagalan itu datang.

Belajar dari nama-nama tersohor seperti Thomas Alva Edison yang harus gagal ribuan kali kali untuk bisa menemukan bola lampu. Ungkapan yang terkenalnya “Aku tidak gagal, aku malah berhasil membuktikan bahwa 9999 jenis bahan mentah itu tidak bisa dipakai (untuk membuat lampu)”. Walt Disney mengajukan “Disneyland” kepada bank-bank di Amerika Serikat ditolak sebanyak 302 kali. Begitupun juga Kolonel Sanders gagal sebanyak 1000 kali untuk bisa membangun kerajaan bisnis KFC-nya. Masih banyak contoh yang lain yang bisa menjadi inspirasi.

Andai saja nama-nama besar itu menyerah saat kegagalan pertama datang, mungkin kita tidak akan menikmati hasil karya mereka saat ini. Mereka itu berhasil menterjemahkan pepatah bijak yang mengatakan “Seorang pesimistis melihat kesulitan setiap kesempatan; seorang optimistis melihat kesempatan dalam setiap kesulitan”.

Kesuksesan adalah sebuah Perjalanan

Seperti sudah menjadi sunnatullah bahwa kesuksesan dan kegagalan tidak bisa terpisahkan. Namun banyak diantara kita yang iri dan terpedaya dengan kesuksesan orang lain, tanpa mengetahui dengan cara apa dia bisa mendapatkan kesuksesannya. Kita hanya tertarik dengan kesuksesan yang tampak dari luarnya saja. Tanpa mau tahu bagaimana perjuangan untuk mencapainya. Tidak salah Soichiro Honda berkata “Apa yang orang lihat dari kesuksesan saya Cuma 1% atapi 99% yang tidak terlihat adalah kegagalan saya”.

Kegagalan menjadi kunci untuk melakukan perubahan. Itu mengandung arti bahwa apa yang sudah kita lakukan selama ini kurang tepat. Kalau kita jeli menangkap pesan, kegagalan adalah bahasa dan isyarat dari alam bahwa ada yang harus diperbaiki dari diri kita. Maka segerakan untuk perbaharui diri, belajar dari kesalahan dan kegagalan tersebut. Selama kita masih mau berusaha saat kita gagal, kesuksesan semakin dekat dengan kita. Ingat pesan Winston Churchil yang mengatakan “Kesuksesan adalah kemampuan untuk berpindah dari satu kegagalan ke kegagalan lain tanpa harus kehilangan antusiasme”.

Jangan Mengeluh, coba lagi
Kunci agar bisa keluar dari semua kegagalan adalah mencoba lagi. Oleh karenanya saat kegagalan datang jangan pernah mengeluh, apalagi menyalahkan Tuhan. Lebih baik gunakan energi ya

ng masih tersisa untuk bangkit kembali dan mencobanya lagi. Gunakan cara yang baru untuk menghasilkan sesuatu yang baru juga. Bila cara yang lama terbukti tidak berhasil, jangan dipakai lagi, harus ganti dengan cara lain. Berusaha terus sampai akhirnya kesuksesan itu bisa diraih.

Pepatah lama yang mengatakan “kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda” itu banyak benarnya, tapi ada kelanjutannya, bagi mereka yang mau berusaha lagi. Bila kita berhasil melewati kegagalan itu, dan akhir bisa mencapai kesuksesan pasti kita lebih bangga, seperti yang Confucius katakan “Kebanggan kita terbesar bukanlah tidak pernah gagal, melainkan bangkit kembali setiap kali jatuh”.
Selengkapnya...

17 Januari 2014

INI BEDANYA PECUNDANG DENGAN PEMENANG

“Winners never quit and quitters never win” – Vince Lombardi

Hari masih belum beranjak dari pagi. Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi. Dengan setengah hati dan masih diselimuti rasa malas, terpaksa kuangkat teleponnya. Ternyata telepon itu dari mantan bosku yang lama. Sebelumnya, kemarin sorenya saya sempat iseng telepon dia hanya ingin “say hello” dan mengetahui kabarnya.

Tidak ada yang berubah dari pembicaraan itu. Biasanya kami berbincang mengenai kesibukan pekerjaan yang dihadapi. Maklum, dulu selama bekerjasama dengan dia, banyak sekali wejangan dan nasehat yang selalu dia berikan, untuk bisa menjadi pemimpin yang baik dan berpengaruh. Dalam pembicaraan itu pun, dia berpesan agar dalam bekerja kita hendaknya memiliki jiwa dan sikap sebagai seorang pemenang bukan malah menjadi pencundang. Lalu apa beda dari keduanya, saya coba menjabarkannya dari penjelasan dia dan ditambah dengan referensi dari yang lainnya.

Pecundang selalu punya kambing hitam, pemenang punya program (solusi)
Sadar ataupun tidak, sikap mencari kambing hitam ini sudah mulai diajarkan hampir sebagian orang tua kita dari kecil. Ingat betul, saat kita lari sampai terjatuh, dan akhirnya menangis. Alih-alih memarahi anaknya, saking sayangnya justru mereka menyalahkan pihak lain. Supaya anaknya tersebut berhenti menangis. Kebiasaan itu mengakar sampai menjadi dewasa. Sehingga sering dalam banyak hal ketika kita dihadapkan pada kesulitan atau kegagalan. Kita sering menyalahkan kondisi di luar diri kita.

Dalam pekerjaan, seringkali kita dihadapkan pada kondisi yang serba sulit. Mulai dari penghasilan yang tidak sesuai dengan tuntutan pekerjaan, punya pimpinan yang otoritor, belum lagi punya teman sekerja yang tidak bisa diajak kerjasama dan bekerja seenaknya sendiri. Semua hal tersebut menambah daftar panjang untuk kita tidak bekerja dengan baik. Seorang pemenang dalam kondisi sesulit apapun tidak pernah mengeluh dan memiliki program serta rencana untuk menyelesaikannya.

Pecundang selalu berkata “Itu bukan salah saya.” Pemenang selalu berkata “Saya yang salah, biar saya yang bertanggungjawab menyelesaikannya”
Ini merupakan penyakit kita yang paling sering ditemui. Sulit sekali untuk mengakui kesalahan. Bahkan banyak kejadian sekarang, para koruptor yang sudah jelas-jelas tertangkap tangan menerima suap pun, tetap saja sulit untuk mengakuinya. Mereka menggunakan seribu macam alasan untuk bisa mengelak dari kesalahn tersebut.

Dalam pekerjaan. Saya pun pernah bahkan mungkin sering dihinggapi perasaan tersebut. Dengan dalih bukan pekerjaan saya dahulunya. Saya tidak mau dipersalahkan atau tidak mau untuk menyelesaikannya. Tak jarang saya sering menyalahkan bawahan untuk menjadi bantalan dari kesalahan kita. Padahal seharusnya untuk bisa menjadi pemenang harus berani mengakui salah apabila memang salah. Dan mau memilikul beban tanggung jawab untuk bisa menyelesaikannya.

Pecundang selalu berkata “Itu mungkin bisa, tapi sulit.” Pemenang selalu berkata “Itu memang sulit, tapi bisa”
Ini salah satu beda yang cukup menonjol yang membedakan kita seorang pecundang atau pemenang. Seorang pecundang selalu melihat kesulitan dalam setiap peluang. Dalam bahasa iklan rokok yang pernah tayang, seorang pecundang mudah putus asa dengan slogan “masih ada celah ko nyerah.” Seorang pecundang selalu melihat masalah dalam setiap jawaban. Sedangkan pemenang selalu melihat jawaban dari masalah. Makanya kenapa seorang pemenang selalu menjadi problem solver dimana pun dia berada.

Seorang Pecundang lebih senang dengan kondisi yang sudah mereka ketahui atau orang menyebutnya zona aman. Ketimbang zona lain yang lebih menantang, padahal mungkin zona tersebut memungkinkan kita menuju kondisi yang lebih baik. Pecundang menolak “Jangan saya” Pemenang menantang “Mengapa bukan saya?” Seorang pecundang memiliki kata-kata ampuh untuk menghindar dari tugas lebih dengan mengatakan “jangan saya”. Mereka meminta tugas yang seringan-ringannya. Berbeda halnya dengan seorang pemenang yang selalu ingin tampil di depan dan mendapatkan banyak kesempatan. Pemenang selalu berpikir, semakin banyak kesempatan yang diberikan, maka akan semakin banyak pula pengalaman dan keterampilan yang dia miliki. Sehingga nantinya hal tersebut akan berguna di masa yang akan datang.

Herannya, seorang pecundang dengan hanya berencana saja, tidak berani tampil di depan dan melakukan tindakan yang sedikit. Dia mengharapkan hasil yang maksimal. Semisal ingin naik pangkat, ingin jadi pemimpin, dan ingin naik jabatan secepatnya. Padahal untuk seorang atasan, sangat kecil kemungkinan untuk memilih dia dan menaikan posisinya ke jabatan yang lebih tinggi. Bila yang dilakukannya pun tidak maksimal. Sekarang pilihannya ada di diri anda, mau tetap berdiam diri jadi pecundang atau bangkit dan berdiri tegak menjadi seorang pemenang.
Selengkapnya...

06 Oktober 2012

KEKUATAN DARI KETERDESAKAN

“Jika rasa sakit terhadap kondisi sekarang tidak kuat, orang tak akan beranjak untuk berubah”


Dalam kehidupan sering kita dihadapkan kondisi-kondisi yang tidak nyaman, yang memaksa kita untuk beranjak atau bergerak. Padahal kita mungkin sudah merasa sangat nyaman dengan kondisi tersebut. Kondisi nyaman diartikan juga sebagai kondisi yang sudah sangat diketahui, walaupun sebenarnya belum tentu “nyaman” buat yang menjalani. Adanya ancaman atau bahaya dari luar itu memaksa kita untuk segera bergerak atau bertindak.

Banyak contoh yang bisa menggambarkan kondisi tersebut, semisal ketika seorang dikejar anjing galak, orang tersebut berada pada kondisi bahaya. Saat itu, mekanisme tubuh bekerja dengan sendirinya, sehingga bisa menghasilkan energy yang mungkin pada saat kondisi normal tidak bisa. Dalam kondisi ini orang bisa menghasilkan energi ekstra yang digunakan untuk keluar dari kondisi kritis ini. Yang semula orang itu hanya bisa melompat 1 meter, kini secara tiba-tiba mampu melompat lebih dari 1,5 meter, untuk bisa lolos dari kejaran anjing tersebut.

Atau pernahkah Anda mendengar cerita atau melihat sendiri seorang ibu dengan kain yang membebat tubuhnya melesat dengan cepatnya dalam beberapa detik, demi menolong anaknya yang belum genap satu tahun bergelantungan di bagian atas tangga putar, lalu ketika tangan sang anak terlepas dari tangga putar, dengan cekatan si ibu menangkapnya dari bawah, sampai kain yang dipakainya robek-robek, dan akhirnya anaknya itu bisa diselamatkan.

Bahkan masih banyak lagi, ribuan atau jutaan peristiwa atau kondisi dimana sesuatu itu dihadapkan pada kondisi bahaya atau terdesak. Bisa keluar dari kondisi tersebut dengan mengeluarkan kemampuan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ini yang sering disebut orang sebagai The Power of Kepepet. Keterdesakan dan ancaman dari luar yang membuat kita harus bergerak untuk mempertahankan diri.

Prof Yohanes Surya mengatakan kondisi ini sebagai titik kritis. Dalam bahasan yang lebih mendalam Profesor yang sudah mengantarkan beberapa siswa Indonesia meraih medali emas di ajang olimpiade fisika ini, menemukan teori yang dinamakan Teori Mestakung. Mestakung itu sendiri kepanjangannya dari Semesta Raya Mendukung. Gambaran umumnya kurang lebih seperti ini, pada saat sesuatu sedang dihadapkan pada kondisi bahaya atau disebut kritis. Tuhan telah menyediakan semesta (yang dimaksud semesta dalam hal ini adalah sel-sel tubuh kita, pikiran, keluarga, teman, lingkungan dan alam sekitar kita) yang akan mengatur diri untuk membantu kita keluar dari kondisi ini. Ada tangan-tangan tak nampak yang akan membantu kita, mereka sering disebut invisible hand.

Teori Mestakung diturunkan menjadi 3 hukum yang sering di ringkaskan sebagai KRILAKUN (merupakan singkatan dari kata KRItis, LANGkah dan teKUN). Hukum ini berbunyi sebagai berikut:

1. Hukum Kritis 
Pada setiap kondisi KRITIS ada jalan keluar. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan dalam agama bahwa “….. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5). Kita tidak sadar bahwa ketika kita sedang dihadapkan dengan kesulitan, percayalah bahwa kebahagiaan sebenarnya sedang menanti kita di ruang tamu. Tentunya kita akan bertemu kalau kita bisa dan berhasil menghadapi kesulitan. Tidak usah khawatirkan juga karena janji Tuhan juga, Dia tidak akan memberi beban di luar kemampuan hambanya.

2. Hukum Langkah 
Ketika seorang MELANGKAH, ia akan melihat jalan keluar“. Bukankah ada pepatah dari luar juga mengatakan “if there's a will there's a way” yang kurang lebih artinya setiap ada keinginan pasti ada jalan. Imbasnya jadilah pribadi yang dalam segala sesuatu itu selalu melihat ada solusi dari setiap masalah. Berpikir dengan paradigm bahwa kalau sesuatu hal itu sulit, tapi masih bisa untuk dipecahkan. Tidak mudah, tapi bisa dilaksanakan. Jalan keluar dan pengertian itu akan kita dapatkan kalau kita terus berlatih keras, berpikir, rajin bertanya pada banyak orang, meminta bantuan dan nasehat orang bijak, membaca buku dan literatur, belajar dari orang yang berhasil keluar dari kondisi yang mirip dengan kondisi tersebut.

3. Hukum Tekun 
Ketika seorang TEKUN melangkah, ia akan mengalami mestakung (semesta mendukung). Tekun disini diartikan sebagai usaha yang kontinu untuk menghasilkan yang terbaik. Dalam ketekunan ada semangat pantang menyerah ketika bertemu dengan kegagalan. Kalau apa yang dilakukan saat ini dianggap kecil oleh orang lain. Maka lakukan hal kecil ini dengan kesungguhan yang besar. Tinggal tunggu waktu mengenai hal-hal besar yang akan datang kepada kita. Dalam ungkapan Arab yang terkenal “Man Jadda WaJada” yang artinya “Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil”.

Mengingat pentingnya kondisi keterdesakan yang membuat seseorang bergerak. Dan rela meninggal zona atau keadaan yang sudah dikenalnya atau sebagian orang mengatakan “nyaman”. Maka tak usah khawatir dan takut mengenai ancaman atau kondisi yang berbahaya yang mengancam kita. Nikmati setiap kesulitan dan keterdesakan yang menghadang. Karena didasari sebuah keyakinan bahwa setelah kita berhasil menghadapi dan melewati kondisi terdesak dan kritis itu, kita akan menjadi pribadi baru yang lebih hebat, kuat dan bijak dalam menghadapi kesulitan berikutnya.
Wallahu'alam bishowab
Selengkapnya...

12 Juli 2012

Dream, Believe and Make It Happen!


“ “the future belongs to those who believe in the beauty of their dreams”. (Masa depan hanya dimiliki oleh orang-orang yang percaya pada keindahan mimpi-mimpi mereka) ” -Eleanor Roosevelt-

Beberapa dari sebagian anda mungkin sudah sangat mahfum dengan ucapan tersebut (judul). Slogan tersebut populer dikampanyekan oleh artis multi talenta Indonesia yaitu Agnes Monica. Bukan tentang sosok Agnes monica nya yang ingin saya bahas, melainkan tentang kedalaman penggalan kata yang ada dalam ucapan tersebut.

Dream
Dunia saat ini sudah menjadi saksi dan bukti bahwa yang dulunya tidak mungkin, sekarang malah hadir ditengah-tengah kita. Tak sulit untuk menunjukan buktinya. Salah satunya kita pantas berterimakasih ke Bill Gates yang memiliki mimpi “Suatu saat nanti seluruh rumah di dunia ini akan menggunakan komputer “. Padahal saat itu ukuran komputer sangat besar dan sangat tidak mungkin untuk masuk ke dalam rumah.

Belajarlah kepada Wright Bersaudara yang yang mempunyai mimpi manusia bisa terbang seperti layaknya burung. Jelas mimpi saat itu dianggap sebagai mimpi yang gila dan tak masuk akal. Lebih menyedihkan lagi karena orang tuanya adalah orang yang paling menentang mimpi gila itu. Tapi Wright Bersaudara mengabaikan seluruh hinaan, cibiran dan makian yang diterimanya, sehingga mulai mendeskripsikan dengan jelas mimpinya. Dan kalau kita saat ini bisa bepergian kesana-kemari dengan mudah melalui naik pesawat terbang, itu tidak lepas dari hasil mimpi mereka yang akhirnya mempelopori penemuan pesawat terbang.

Tentu masih banyak lagi contoh tokoh-tokoh yang dengan mimpi besarnya akhirnya kita dijaman sekarang bisa menikmati hasilnya. “Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia, berlarilah tanpa lelah hingga engkau meraihnya”. Apabila ada orang diantara kita yang mencibir dan menghina apa yang kita cita-citakan tak usah dihiraukan. Jangan dengarkan dan abaikan saja omongan orang yang tidak akan membantu dan menolongmu saat kita jatuh dan gagal.

Believe
Believe erat hubungannya dengan visi. Bisa melihat dengan jelas gambaran masa depan walaupun belum mengalaminya. Tentu mimpi tidak akan berarti apa-apa tanpa kita mempercayai dan meyakininya. Karena kitalah orang pertama yang harus percaya bahwa mimpi besar kita bisa tercapai. Kita tidak bisa berharap orang lain mempercayai mimpi kita tanpa kita sendiri mempercayai, meyakini dan membuktikannya. Believe juga berhubungan dengan iman. Kita meyakini sesuai yang tidak kasat mata. Tapi kita yakin itu ada dan bisa.

Simak cerita nyata dari Kolonel Sanders (Pendiri KFC), keyakinannya untuk membangun suatu restoran dengan konsep franchise tetap menyala dan membara walaupun ditolak oleh ribuan orang, dan pada orang ke-1007 barulah mimpinya diterima. Bisa kita bayangkan, dia masih tetap yakin dan semangat walaupun sudah gagal sampai 1006 kali. Hanya kekuatan believe yang mampu mengantarkan dia sampai ke tujuan tersebut.

Tak lengkap rasanya kalau tidak membahas Thomas Alfa Edison, yang berhasil mambantu manusia dari kegelapan dengan mengciptakan lampu pijar. Padahal dia sudah gagal sampai 999 kali. Saatitu dia berkata bahwa dia bukan gagal, tapi berhasil membuktikan bahwa bahan-bahan yang ada dalam 999x eksperimennya itu tidak bisa digunakan. Dia memimpikan dengan jelas malam yang terang itu seperti apa. Terus-menerus ia memperkuat dan memperjelas mimpinya sambil terus mencoba membuat lampu. Hingga akhirnya kita bisa menikmati hasil dari upayanya.

Make it Happen!
Mimpi yang besar tidak akan berarti apa-apa tanpa ada action. Karena yang terjadi adalah NATO (No action Talk Only) atau NADO (No Action Dream Only). Mimpi itu tak ubahnya seperti mimpi di siang bolong. Untuk bisa mencapai mimpi besar itu, selain dari percaya (believe), kita harus mulai break down. Mimpikan yang besar, tapi lakukan dari hal-hal kecil. Seperti pepatah cina “Perjalanan 1000 mil dimulai dari langkah pertama”. Tak usah bersedih hati dan berkecil hati, apabila saat ini kita masih berada diposisi yang jauh dari mimpi itu. Teruslah berjuang untuk meraihnya. Break down apa saja yang harus dilakukan untuk mencapai mimpi tersebut. Mengutip pepatah Mario Teguh “Lakukan hal kecil dengan kesungguhan yang besar”. Karena hal-hal besar akan datang pada orang yang mau melakukan hal kecil tapi dengan keseriusan dan kesungguhan yang besar.

Life is not theory. Life is action! Karena hidup tidak hanya teori, tapi hidup adalah tindakan. Maka jadilah bukti dari apa yang anda ucapkan. Kalau kita berkata bahwa disiplin itu baik, jadilah orang yang pertama datang ke tempat kerja. Terakhir saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan kalimat indah milik Thomas Henry Huxley bahwa “Akhir agung kehidupan bukanlah pengetahuan, melainkan tindakan.”
Selengkapnya...

25 Juni 2011

Proud To Be a Salesman

Salesman…hmm…pasti banyak diantara kita yang menyepelekan dan menganggap remeh profesi yang satu ini. Jauh kalah menterengnya dibandingkan dengan profesi yang lain seperti dokter, pengacara, konsultan, auditor dll. Bagi mahasiswa yang baru lulus dan sedang mencari kerja, lowongan kerja sebagai tenaga penjual sangat dihindari. Paling tidak seperti itu pula yang aku rasakan saat itu.

Sehingga dalam berbagai kesempatan banyak perusahaan yang menjebak calon mangsanya dengan nama-nama pekerjaan yang cukup asing. Seperti contoh dalam dunia perbankan kita mengenal istilah account officer, dunia farmasi mengenalnya sebagai medical representative, dalam perusahaan pembiayaan dikenal sebagai credit marketing officer, untuk perusahaan asuransi menyebutnya sebagai agen asuransi.



Saya termasuk salah seorang yang terkena jebakan itu…he3. Karena tadinya saya termasuk ke dalam kategori orang yang secara stereotif memandang sebelah mata pekerjaan sebagai seorang sales. Makanya dalam banyak pekerjaan yang saya coba lamar, prinsip kehati-hatian selalu saya jaga agar tidak salah ambil pilihan pekerjaan tersebut.

Dan seperti biasa, langkah awal selalu terasa berat untuk memulai sesuatu yang baru. Begitu pula yang aku rasakan saat pertama kali saat jadi sales. Beban target yang cukup besar dan pressure pekerjaan yang cukup kencang sempat membuat aku sedikit goyah dengan profesi ini. Sampai pada akhir saya meyakini, bahwa ini profesi yang cukup menjanjikan dan mampu mengembangkan segenap potensi yang dimiliki.

Kenyataannya, dunia penjualan merupakan tempat yang cukup tepat untuk mengasah sikap mental, daya tahan terhadap tekanan, dan juga dalam mengelola kecerdasan emosi untuk bisa membina hubungan baik dengan banyak orang lain, baik itu teman sekantor maupun pelanggan. Secara jenjang karir pun cukup jelas, dimana kinerja seorang sales bisa diukur dengan jelas dari pencapaian target yang dibebankan. Dari segi pendapat pun cukup menggiurkan karena penghasilan tidak hanya diperoleh dari gaji pokok, tapi penghasilan lebih besar didapat dari insentif, bonus, atau komisi.

Bahkan secara idealisme, profesi sales pantas dibanggakan juga. Bagaimana tidak, coba kita runut dengan analisa logika seperti ini, pendapatan negara sebagian besar diperoleh dari pajak, subyek pajak badan usaha member porsi yang cukup besar dibandingkan pajak yang dikenakan kepada individu. Dan dalam laporan keuangan perusahaan atau badan usaha, pajak diperoleh dari persentase (tarif pajak) di kali laba yang diperoleh. Laba sendiri diperoleh dari hasil selisih penjualan dikurangi biaya pokok dan biaya operasional lainnya. Jadi jelas lah sudah kalau penjualan menjadi pembentuk utama bagaimana laba bisa diperoleh. Dan kalau berbicara tentang penjualan, peran sales lah yang cukup dominan untuk transaksi itu bisa terjadi. Jadi seorang sales sebenarnya telah banyak memberi sumbangsih cukup besar pendapatan kepada negara walaupun secara tidak langsung.

Terakhir, menghadapi ketatnya persaingan hidup di masa depan, rasanya tidak berlebihan kalau kemampuan menjual menjadi keterampilan yang cukup dibutuhkan. Yang pertama adalah kemampuan untuk menjual, artinya menjual produk apapun yang dipegangnya. Dan kalau pun kita tidak mempunyai hal tersebut, paling tidak kita bisa menjual kemampuan yang kita miliki, apapun profesi kita. Karena dengan kemampuan ini kita bisa menjadi dokter yang lebih banyak pasiennya dibandingkan dokter lain, pengacara yang lebih terkenal dari pengacara yang lain, auditor yang lebih handal dari auditor yang lain dan banyak lagi yang lainnya…Dan bagi saya menjadi sales salah satu cara untuk bisa hijrah dari kuadran kiri ke kuadran kanan..semoga dimudahkan….
Selengkapnya...

17 November 2010

KESEMPATAN ITU MASIH ADA !!!

“Dalam bahasa Inggris kata kesempatan adalah opportunity, inisial huruf O di depan kata, bukannya tanpa makna, itulah kenapa dalam kata yesterday (kemarin) tidak terdapat huruf O, karena memang hari kemarin sudah berlalu, tak ada kesempatan lagi untuk dirubah, Berbeda dengan kata Today (sekarang/hari ini), terdapat 1 huruf O, itu karena kita punya 1 kesempatan untuk yang harus dimanfaatkan, dan jangan takut, dengan berapa besarnya kesalahan yang kita perbuat kemarin dan hari ini, bila kita punya hari esok (Tommorow), itu karena kita punya banyak O (opportunity) untuk merencanakan dan melakukan perubahan”

Kalimat bijak itu tak sengaja aku baca di bbm-ku, karena saat itu masih pagi buta, makanya aku tak sempat mencerna maknanya, karenanya aku berlalu ke kamar mandi untuk melakukan hajatku. Penasaran dengan maksud kalimat itu, aku coba baca kembali isi bbm dengan seksama. Akhirnya aku tersenyum simpul, setelah aku pahami maksudnya dan setelah tau siapa yang mengirimnya. Pesan itu sengaja dikirim oleh bos-ku, sebagai “sarapan pagi”, sebelum aku berangkat kerja. Maklum saja sebagai seorang sales, aku dituntun untuk terus memelihara api semangat itu agar tetap membara. Karena kesempatan akan terbuka lebar saat ini dan esok hari.

Dalam perjalanannya, aku pikir kalimat itu semakin kontektual dengan beberapa kejadian yang sering kita alami. Tak jarang kita tak bersemangat lagi, dan menyesali dengan apa yang sudah terjadi/apa yang sudah diperbuat. Seolah semuanya sirna gara-gara kita melakukan satu kesalahan dan kegagalan. Dunia seperti mau kiamat, matahari seakan tak akan terbit lagi, semua sinar pencerahan terhalangi oleh kesalahan yang sudah kita perbuat. Makanya tak heran ada diantara kita yang menyikapi kondisi ini dengan sikap putus asa dan penuh penyesalan.

Padahal kalau kita benturkan apa yang kita alami dengan kalimat di atas. Tak ada alasan kita untuk patah semangat dan putus asa. Ya…hari kemarin..hanya sebuah kenangan, tak ada yang bisa kita rubah, seperti pepatah “nasi sudah menjadi bubur”. Tanpa kita sadari, kita ternyata masih punya hari ini, artinya kita punya kesempatan untuk melakukan perbaikan dari kesalahan yang telah kita perbuat. Dan tentunya terakhir kita harus tetap optimis dan semangat, untuk menyambut hari esok, karena yakinlah, akan banyak kesempatan yang datang.

Penyesalan dan ratapan saja tak akan membantu menyelesaikan apa-apa. Justru jadikan kegagalan hari kemarin sebagai batu loncatan untuk melakukan perbaikan diri. Bahkan John C Maxwell (Pakar Kepemimpinan Dunia) pernah berpesan jangan takut dengan banyaknya kegagalan yang kita alami, dia berceloteh ‘tak peduli berapa banyak susu yang anda tumpahkan, yang penting anda masih mempunyai sapinya” artinya selagi kita masih punya semangat dan optimisme kita akan bisa tetap survive.

Dalam banyak hal, justru sering kita lihat, orang yang berhasil dan sukses. Orang yang sebelumnya banyak melakukan kesalahan dan kegagalan. Itu karena mereka mampu bangkit dari kesulitan itu. Seperti pepatah “nahkoda yang hebat, tidak akan lahir dari ombak yang tenang”. Artinya seseorang yang hebat dan menjadi pemenang adalah orang yang mampu mengatasi banyaknya kesulitan dan hambatan.

Satu hal yang penting dan tak boleh diabaikan adalah, ada kalanya semangat itu redup, bahkan padam, lalu bagaimana caranya agar itu menyala dan membara terus ? Salah satu caranya, yang coba saya resapi dari nasehatnya Pak Mario teguh “ jadikan diri anda bernilai pada orang-orang disekitar anda (orang yang kita cintai)”. Karena saat semangat kita mulai meredup, atau kita lagi dalam kondisi lemah….Maka merekalah yang akan menguatkan kita. Karena mungkin bagi dunia kita hanyalah seseorang, tapi bagi mereka, kitalah dunianya…..So bersemangatlah…..KESEMPATAN ITU MASIH ADA!!!

Selengkapnya...

07 Juni 2010

JADILAH PRIBADI YANG MUDAH BERTEMAN

Sudah sedari dulu memang manusia disebut sebagai mahluk sosial. Pribadi yang membutuhkan bantuan orang lain untuk mencukupi kebutuhannya. Jika kita runut mulai dari awal, pas ketika kecil dulu, untuk sampai bisa menjadi berjalan sendiri, kita perlu bantuan orang tua. Dari mulai belajar merangkak, belajar makan, belajar mandi orang tua-lah yang membantu kita melakukan aktivitas tersebut, sampai pada akhirnya kita bisa melakukannya sendiri.

Ketika kita beranjak dewasa, dimana kebutuhan kita semakin komplek, maka tambah banyak pula kita dipaksa untuk berinteraksi dengan orang lain. Mungkin saat kita kecil, kita hanya bergaul dengan teman kecil kita satu komplek atau tetangga rumah. Tetapi menginjak sekolah dasar, kita berteman dengan jumlah yang lebih banyak, dan dengan banyak karakter. Begitu seterusnya saat kita kuliah sampai kerja kita dihadapkan dengan pergaulan dengan orang-orang yang lebih majemuk dari mulai berbeda suku, agama, budaya, bahasa, bahkan negara. Semakin luas ruang lingkup kita, entah semakin tinggi jabatan atau banyaknya orang yang dilayani, semakin banyak pula kita harus mengerti dan memahami karakter orang-orang tersebut.

Kemampuan untuk bisa mudah bergaul dengan orang lain dan gampang mendapat teman, tidak serta merta turun dari langit sebagai sebuah bakat. Bahwa memang ada sebagian orang yang sejak kecil senang berbicara atau terlihat extrovert, itu tidak lantas menjadi penentu untuk bisa sukses dalam bergaul dan mempunyai banyak teman. Atau ada mungkin dari kita atau teman kita, yang sejak kecil sangat pendiam. Bicara hanya ketika ditanya, ngomong seperlunya, dan lebih banyak membisu. Lantas pertanyaannya apakah tipe orang model begitu bisa mudah bergaul dan mendapatkan banyak teman?

Sejatinya, yang namanya bergaul dan berteman pasti akan terjadi interaksi antara kita dengan orang lain. Dalam proses interaksi itu pasti ada komunikasi, baik verbal maupun non verbal. Komunikasi verbal erat kaitannya dengan ucapan, perkataan dan tutur bahasa yang kita gunakan, sedangkan non verbal berhubungan dengan bahasa tubuh dan gerak gerik tubuh kita saat komunikasi. Kecerdasan emosional menyebut itu sebagai keterampilan intrapersonal, keterampilan untuk membina hubungan baik dengan orang lain atau keterampilan yang digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain.

Lalu artinya apa?…artinya adalah yang namanya mudah bergaul, agmpang berteman dan memiliki acceptabilitas yang tinggi, itu semua adalah keterampilan. Bagaimanapun sulitnya, yang namanya keterampilan pasti bisa dilatih. Konteknya dengan pernyataan di atas, orang yang pendiam sekalipun, bila terus berusaha berlatih dan membuka diri untuk bisa menerima orang lain, pasti akan bisa mudah juga mendapatkan teman. Kemampuan membina hubungan baik dengan orang akan semakin baik seiring dengan banyaknya orang yang kita temui dengan berbagai macam karakternya.

Mulai sekarang, jadilah pribadi menarik, yang kehadiran kita ditunggu oleh banyak orang lain. Pastikan ada sesuatu yang kurang kalau kita tidak bersama mereka, jadilah pribadi pembeda yang selalu membawa keceriaan dalam setiap pertemuan. Tunjukan kalau kehadiran kita bukan merupakan ancaman bagi mereka, tapi justru akan memberi manfaat dan keceriaan. Bukankah manusia terbaik juga yang banyak manfaatnya?

Berusahalah untuk menjadi pribadi yang menyenangkan. Pribadi yang senantiasa menyunggingkan senyum ketika bertemu. Ramah terhadap siapapun yang ditemui, hormat pada atasan dan yang lebih tua, pribadi yang asik untuk diajak untuk MKLL (Minum Kopi Lambat-Lambat), karena kalau tidak panas-panas pun orang lain akan cepat habiskan agar bisa meninggalkan kita.

Terakhir, saya percaya, bahwa dalam hidup, untuk bisa mencapai sukses. Pada dasarnya kita sedang menunggu untuk ditemukan orang lain. Karena kenyataannya, tidak jarang sebuah deal bisnis, dan kerjasama dalam usaha terjadi lewat pergaulan dan pertemanan yang sudah kita jalin. Tentu sembari kita menunggu untuk ditemukan oleh orang lain, kita juga tidak henti-hentinya mengasah kemampuan dan potensi apapun keterampilan dan profesi kita sekarang. Bersiap-siaplah untuk menjadi, karena ganjaran bagi orang yang sudah siap….ya menjadi (jadi). Semangat Sukses Selalu!!!
Selengkapnya...

27 Juli 2009

MENANTI KEAJAIBAN ITU TIBA

“Keajaiban itu lahir dari ibu yang bernama kesulitan dan ayah yang bernama upaya.” Mario Teguh.

Hampir seluruh negara didunia saat ini sedang dilanda krisis ekonomi global. Krisis yang bermula dari negara adikuasa Amerika Serikat telah merusak stabilitas ekonomi dihampir seluruh negara. Layaknya seperti virus, krisis ekonomi ini cepat menyebar ke seluruh belahan penjuru dunia. Indonesia pun tidak luput dari serangan ‘virus’ yang membahayakan ini. Bila ini tidak cepat diatasi, kondisi ini akan berpengaruh terhadap kesetabilan perekonomian kita. Pemerintah harus berupaya sekuat tenaga untuk bisa membendungnya, paling tidak, derasnya laju hantaman krisis ekonomi global bisa ditahan agar dampaknya tidak semakin parah.



Dalam kondisi krisis, masyarakat lapisan bawah (Wong Cilik) akan menjadi pihak yang sangat terpukul apabila pemerintah gagal mengatasi kondisi ini. Carut marut yang selama ini meraka rasakan akan semakin bertambah pelik dengan datangnya krisis. Alih-alih bisa bisa keluar dari kemiskinan yang sudah dirasakan sejak lama, justru makin terpuruk oleh keadaan.

Kondisi ekonomi di seluruh dunia memang sulit, tapi mari kita coba dari sudat pandang yang bisa lebih mencerahkan. Coba kita sedikit flashback pada masa-masa dimana kita dihadapkan pada kesulitan. Tentu kita masih ingat betul krisis ekonomi yang menimpa pada negara kita ditahun 1998. Tapi akhirnya lambat laun kesulitan itu bisa diatasi, dan kita bisa beradaptasi serta akhirnya keluar dari kondisi sulit itu.

Begitu juga dalam kehidupan pribadi, kita pernah berkali-kali menghadapi kesulitan dan ujian dalam hidup. Tapi coba kita lihat sekarang, kita masih ada dan masih berdiri kokoh dalam melewati setiap kesulitan yang datang. Selama matahari hari masih terbit dari timur dan tenggelam dari barat, selama embun pagi masih menetes dipagi hari, dan selama raga ini masih bisa bernafas, kita masih mempunyai kesempatan untuk bisa merubah keadaan dengan semangat pantang menyerah dan berusaha untuk keluar dari kesulitan. Yakinlah bahwa sesungguhnya setelah kesulitan, pasti akan datang kemudahan. Mengutip ucapan Gede Prama “ketika kita sedang dilanda kesedihan, percayalah bahwa di ruang tamu ada yang sedang menunggu, yaitu kebahagiaan.”

Sebetulnya ketika kesulitan datang, itu pertanda bahwa cara-cara yang kita gunakan sudah tidak tepat lagi. Karena kalau apa yang kita lakukan benar, pasti kita tidak akan bertemu dengan kesulitan itu. Kalau kita ikhlas dan sadar menerima itu berarti setiap kesulitan adalah perintah agar kita menyegerakan pembaharuan diri. Bagi orang yang melihat bahwa setelah kesalahan akan datang hukuman, maka kesulitan yang datang akan dianggap sebagai sarana untuk menghukum dirinya, dampaknya dia akan bersedih hati dan mengulangi kesalahannya. Tetapi bagi orang yang menganggap setelah kesalahan akan datang hadiah dari disadarinya kesalahannya, maka dia akan memperbaiki dirinya dengan ikhlas.

Tuhan kadang menempatkan kita pada posisi yang sangat sulit, agar kita menyadari bahwa tidak ada yang sulit bagi Dia. Kita sering tidak berserah kepadaNya sampai kita tidak memiliki apa-apa. Dalam kondisi sulit yang dialami hampir seluruh negara di dunia, yakinlah itu hanya masalah yang bersifat statistik, dan ketika kita berbicara statistik, maka hitungannya akan rata-rata. Tapi dalam kondisi sesulit apapun yakinlah bahwa rejeki itu bersifat pribadi, apapun kesulitan yang kita alami dalam masalah ekonomi, kita harus tetap bersemangat dan berpikir positif, jadi disaat orang lain mengeluh, merintih, meratap dan menyalahkan kepada banyak hal, ini kesempatan kita untuk berdoa dan berusaha dengan keras, maka hal itu akan menjadi pembeda kita dengan orang lain di hadapan Tuhan. Sehingga dalam ekonomi yang sulit, rejeki kita tetap pribadi dan berbeda dengan orang lain, maka perbaikilah hubungan pribadi kita agar kita semakin dekat denganNya. Yakinlah bahwa ketika Tuhan berpihak pada kita, tidak ada yang tidak mungkin.

Karena Tuhan akan memberi rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka dan hanya dengan upaya maka kita akan bisa merubah nasib maka mulai dari sekarang berusahalah lebih keras lagi. Pantaskanlah diri kita untuk bisa mendapatkan apa yang pantas kita dapatkan dengan cara melakukan hal-hal yang sekarang kita anggap kecil dengan kesungguhan yang besar. Dalam kondisi sesulit apapun cobalah berdiri lebih gagah, duduk lebih tegak, mengangguklah lebih anggun dan tersenyumlah lebih ramah. Kalau kita memilih menjadi pribadi yang pantas mendapatkan keajaiban, bukan hanya keajaiban itu yang akan datang pada kita, tapi kita akan menjadi pengundang keajaiban bagi diri dan lingkungan kita. Bila kita percaya maka kita akan melihatnya.

Selengkapnya...

01 Juni 2009

HIDUPLAH DALAM KEHIDUPANMU

“Dalam hidup ada kehidupan. Kita harus mampu menghidupkan kehidupan ini agar kita bisa benar-benar hidupdalam menjalani hidup kita. Setelah kita benar-benar hidup, kita dapat menghidupkan kehidupan orang lain sehingga hidup kita tidak sekedar hidup-hidupan.”Adi W. Gunawan


Tulisan ini saya mulai dengan untaian kata filosofis yang didapat dari salah satu buku best seller milik Adi W. Gunawan. Dia salah satu guru imajiner dari sekian banyak orang-orang hebat yang saya kagumi, dia sendiri senang menyebut dirinya sebagai Re-Educator dan Mind Navigator. Ucapan dalam buku dia tersebut jelas cukup menggelitik saya untuk bisa merenungkan kembali dan bertanya pada diri tentang apa itu hidup? Mengapa saya hidup? Untuk apa saya hidup?

Mencoba menjawab pertanyaan tersebut di atas dengan menggunakan pendekatan akademis yang tersisa dari proses pendidikan di kampus dulu semasa kuliah, hasilnya ternyata masih belum bisa menjawab pertanyaan sesulit itu. Maklum selama dikampus dosen saya banyak mengajarkan tentang pengetahuan dan keterampilan teknis yang masih bersifat semu dan maya. Konsekuensi logisnya tidak mengherankan jika saya masih bingung dalam menghadapi dunia yang riil dan tidak jarang saya merasa terasing dengan diri sendiri.

Sistem pendidikan yang ada sekarang masih belum mampu untuk bisa menghasilkan lulusan yang bisa menjawab pertanyaan diatas. Apalagi untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai kualitas dan mental yang kuat, serta menghasilkan manusia-manusia yang bijak dan bisa bermanfaat buat sesama. Maka dalam kontek ini tidaklah mengherankan kalau Topatimasang (1998) mengatakan bahwa pendidikan tidak ubahnya seperti candu yang memabukan, membuat banyak orang terlena dan terbius sehingga tidak bisa mengenal realitas yang ada disekitarnya. Tentunya ini bertolak belakang dengan apa yang inginkan oleh salah satu tokoh pendidikan dunia yaitu Paulo Freire yang berpendapat bahwa tujuan akhir dari upaya proses pendidikan adalah memanusiakan manusia (humanisasi) yang berarti pemerdekaan atau pembebasan manusia dari situasi batas yang menindas dari kehendak kita.

Dalam prakteknya pendidikan yang kita dapat selama ini belum mengakui sepenuhnya bahwa manusia itu sosok yang unik, artinya sosok yang satu akan berbeda dengan sosok yang lain. Buktinya untuk bisa mengukur kecerdasan seseorang masih saja menggunakan kecerdasan tunggal yaitu kecerdasan inteletual, dengan melihat dari ketrampilan menghitung, merinci, dan menganalisis. Tidak heran kalau nilai raport dan IPK (Indek Prestasi Kumulatif) menjadi ukuran kebanggaan yang mutlak bagi anak didik dan orang tua sehingga tidak jarang banyak yang menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan nilai yang bagus. Hal inilah yang menyebabkan Adi W. Gunawan mengatakan dengan bahasa provokatif disalah satu artikelnya bahwa sekolah hanya dirancang untuk menghasilkan orang-orang gagal.

Dalam kehidupan ini, ternyata secara tidak sadar kita sering merasa minder dengan kelemahan yang dimiliki. Dan celakanya proses itu muncul dari interaksi dengan lingkungan terdekat kita. Lingkungan dalam keluarga, pertemanan dan sekolah sering menjadi titik awal rasa minder dan lemah itu muncul. Sebagai contoh kecil, ketika kita dulu sekolah pernah mengalami kesulitan dengan salah satu pelajaran, semisal bermasalah dengan pelajaran matematika. Ketidakmampuan kita dalam menyelesaikan soal-soal matematika membuat kita berpikir bahwa ”Akulah anak paling bodoh di kelas ini!” atau ”Akulah siswa yang pantas gagal!”. Bahkan tidak jarang ucapan yang bernada pengecilan terhadap kemampuan anak itu berasal dari orang tua dan guru.

Kondisi di atas bila dipelihara terus akan sangat berbahaya, ini akan menyebabkan seseorang terpenjara mentalnya seumur hidup. Karena ketika persepsi ketidakmampuan kita terus dipelihara, bahkan didukung oleh lingkungan terdekat kita, maka lama kelamaan ini akan menjadi belief system yang akan mengakar kuat, sehingga pada akhirnya akan menempel dan mengendap pada alam bawah sadar kita. Keadaan ini akan membelenggu dan membenamkan setiap potensi besar kita untuk diaktualisasikan. Jelas kalau sudah pada tahap ini tidak mudah untuk “disembuhkan”. Memerlukan upaya yang cukup keras dan lumayan rumit untuk bisa mengembalikan pada kondisi semula. Ibarat sebuah komputer yang sudah terkena virus ganas, maka harus cepat-cepat diinstal ulang, dengan menghilangkan program-program lama diganti dengan yang baru.

Berbicara masalah cerdas atau tidak cerdasnya seseorang, jawabannya mungkin ada pada hasil penelitian Howard Gardner, dia menemukan bahwa dalam diri seseorang terdapat kecerdasan majemuk, artinya terdapat beberapa kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Beberapa jenis kecerdasan tersebut adalah linguistic, logical-mathematical, bodily-kinesthetic, spatial-visual, musical, intrapersonal, dan interpersonal. Penemuan tersebut disempurnakan oleh Daniel Goleman dengan hasil penelitian yang cukup menggemparkan dan merubah tatanan nilai yang dianut serta dipercaya sebelumnya, dia mengatakan bahwa kecerdasan intelektual hanya berpengaruh 20% terhadap kesuksesan dalam hidup. Selebihnya itu ditentukan oleh kecerdasan lain yaitu kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional itu sendiri merupakan kemampuan untuk memahami diri sendiri sehingga bisa memahami orang lain dan bisa membina hubungan baik dengan orang lain. Kecerdasan inilah yang sangat dibutuhkan seseorang dalam menghadapi kesulitan dalam hidup.

Hanya saja sangat disayangkan, karena banyak orang yang tidak mengetahui dan menyadari hal ini. Kelemahan yang kita miliki telah membutakan mata hati kita untuk mengali potensi dan kekuatan yang telah diberikan Tuhan pada kita. Kita sering fokus untuk membanding-bandingkan kelemahan kita dengan kelebihan yang dimiliki orang lain. Mengutip ucapan Mario Teguh bahwa ketika kita berfokus pada satu hal, maka kita akan tumbuh pada hal tersebut. Jadi ketika hanya berfokus pada kelemahan yang dimiliki hasilnya kita akan semakin menyesali diri dan merasa inferior. Sehingga ketika kesulitan datang, kita sudah buru-buru mengatakan bahwa kita tidak mampu, ini terlalu berat buat kita, ini tidak mungkin untuk diselesaikan. Ketika perasaan ini muncul, maka sebenarnya kita telah mati dalam kehidupan ini.

Kembali pada ucapan indah diatas, ternyata banyak diantara kita belum benar-benar hidup dalam kehidupan, ini bisa dilihat dengan belum maksimalnya atau bahkan masih terkuburnya potensi besar dalam diri kita. Jelas ini tugas kita untuk bisa membangunkan setiap kemampuan terpendam yang masih tertidur, dengan harapan kita akan semakin merasa percaya diri dan bersyukur pada Tuhan karena telah diberi kemampuan sehebat ini. Sehingga tugas kita tinggal satu lagi, yaitu memberi manfaat dari kehadiran kita dengan membantu dan menolong orang lain untuk bisa menghidupkan kehidupannya. Karena ketika kita berhasil membantu orang dalam menemukan dan mengembangkan potensinya, maka kehadiran kita bisa memberi manfaat buat orang lain. Bukankah orang hebat dan terbaik itu, adalah orang yang paling bermanfaat. SALAM SUKSES !!!
Selengkapnya...

05 April 2009

SAAT KITA MERASA LEMAH

Pernahkan anda mengalami perasaan letih dan tidak berdaya? Tentu perasaan tersebut bukan ditujukan untuk fisik kita melainkan untuk kondisi mental dan jiwa kita. Pertanyaan itu juga muncul dalam benak karena didasari oleh keyakinan bahwa setiap orang pasti pernah merasa atau berada dalam kondisi ini. Karena pentingnya menyikapi kondisi ini, maka saya terpanggil untuk menulis topik ini.

Adalah suatu hal yang biasa ketika manusia dalam hidupnya dihadapkan beberapa persoalan. Ada sebagian dari kita yang merasa putus asa dan tidak sanggup lagi menghadapi semuanya. Sehingga tidak jarang kita kehilangan semangat untuk hidup di dunia ini. Pikiran kita seolah tak mampu lagi untuk berpikir dengan jernih hanya sekedar untuk mencari solusi atas masalah yang belum menemukan titik temunya.

Kondisi lemah akibat dari masalah yang belum terselesaikan sebenarnya adalah perintah bagi kita untuk melakukan upaya-upaya yang baru. Karena kalau tindakan atau apa yang kita kerjakan tepat, kita tidak akan mungkin bertemu dengan kesulitan ini. Anggapkan kesulitan yang datang sebagai petunjuk untuk dilakukannya tindakan dan cara-cara yang baru.


Kadang kita tidak sadar bahwa pada saat kita berada dalam kondisi sulit, itu sebenarnya kita semakin didekatkan dengan datangnya keajaiban. Bukankah keajaiban itu datang dari ibu yang bernama kesulitan dan ayah yang bernama upaya. Karena itulah jadikan setiap kesulitan yang datang untuk dijadikan lecutan agar kita bersemangat lagi dalam melakukan upaya. Karena saat itulah keajaiban itu semakin dimungkinkan oleh yang Maha memungkinkan untuk terjadi. Karena kalau menurut Dia jadi maka jadilah.


Sebenarnya persoalan akan semakin mudah bila kita hanya mengambil posri yang bisa kita lakukan, selebihnya serahkan semuanya ke Tuhan. Biar dia yang mengambil alih semuanya, kita hanya diwajibkan untuk berusaha. Tetapi kita harus berhari-hati dengan kualitas usaha kita, jangan sampai kita hanya terjebak pada kata usaha, tanpa menghiraukan kualitas dari usaha yang kita lakukan. Bukankan ada janji Tuhan bahwa upaya merupakan pengubah nasib. Maka lakukan setiap upaya dengan keras dan sepenuh hati sehingga itu bisa menjadi tanda buat Beliau untuk menjawab doa kita.


Perjalanan kehidupan sudah membuktikan bahwa banyak orang-orang besar yang tumbuh dari kesulitan hidup. Kuncinya mereka tidak menyerah pada nasib yang ada. Mereka tidak pernah mengeluh dengan kondisi yang ada, karena mereka melihat ada banyak harapan untuk hidup lebih baik bila berusaha dengan baik, tanpa harus mengandai-andai mendapatkan bantuan dari langit, jadi anak orang-kaya, terlahir di kaum bangsawan atau apapun itu.

Sekarang lihatlah ke langit, mintalah untuk diberi kekuatan dan kewenangan untuk bisa melewati setiap kesulitan yang ada. Mintalah bahu yang kuat untuk menanggung beban yang lebih berat lagi, jadilah bahu yang kuat untuk menanggung kehidupan banyak orang. Sehingga ketika kesusahan itu datang, akan ada banyak orang yang memberi semangat dan mengharapkan kita untuk bangkit lagi. Sehingga ketika kondisi letih dan lemah pun ada banyak orang yang akan menjadi topangan dan sandaran untuk kita semangat lagi. Selamat Mencoba Ya….
Selengkapnya...

23 Februari 2009

KENAPA HARUS BERUBAH???

Sebelum mengambil judul ini, saya sempat tersenyum kecil, maklum judul ini mengingatkan saya dengan judul sinetron yang dulu pernah diputar di SCTV. Kenapa Harus Inul??? Itulah sinetron yang pernah melambungkan nama Inul sebagai pedangdut kesohor. Terlepas dari banyak kontroversi yang sempat menghampirinya, toh ending ceritanya kita sudah tahu semua bagaimana inul sekarang.

Tentu bukan masalah pribadi inul yang akan saya bahas disini. Hanya untuk mencoba mengkorelasikan antara masalah yang akan saya bahas dengan kondisi riil yang pernah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bila melihat kasus di atas, sebenarnya inul lah yang telah merubah kondisi wajah “dangdut” Indonesia menjadi sekarang ini. Dan semua tahu bahwa walaupun kondisi ini menyebabkan banyak kontroversi muncul disana sini, tapi toh akhirnya musik dangdut kita sudah mulai bergeser haluan. Itulah salah satu contoh perubahan, terlepas orang menilainya itu baik atau buruk.

Seperti itulah perubahan, pertama kali muncul tidak jarang menimbulkan protes dan perdebatan. Bagi orang yang sudah merasa nyaman dengan kondisi dan sistem yang ada, untuk bisa menerima perubahan sangat sulit. Karena meraka sudah terlampau asyik dengan zona kenyaman yang mereka rasakan, walupun mungkin zona nyaman itu sendiri tidak selalu membuat nyaman. Adakalanya zona ini hanya sebatas kondisi yang sudah mereka ketahui, dan hanya karena mereka sudah tahu inilah sehingga membuat mereka enggan untuk beranjak dari tempat tersebut.

Kehidupan selalu ditandai dengan perubahan. Kita bisa melihatnya pada diri kita sendiri. Dulu sewaktu masih bayi, hidup kita tergantung pada orang lain. Kemudian kita menjadi seorang anak yang belajar jalan dan sesekali terjatuh, lalu berlari dengan kedua tangan dan kakinya. Setelah itu menjadi sosok dewasa yang akan menghadapi bermacam-macam persoalan dalam hidup. Kadang kita tertawa dan senang, kadang hidup susah dan menangis.

Perubahan adalah pertanda kehidupan. Dalam realitas sosial perubahan sering ditandai dengan adanya ketidaknyamanan atas kondisi sekarang, perubahanan juga selalu menghadirkan asa. Indonesia sempat mengalami seperti itu beberapa kali, salah satunya adalah pada tahun 1998. Ketidaknyaman dengan kondisi yang ada menyebabkan sebagian orang, terutama mahasiswa, menjadi motor dan agen perubahan dalam era reformasi. Walaupun kondisi tersebut harus dibayar mahal dengan matinya beberapa mahasiswa yang tertembak peluru serta kerugian material yang tidak sedikit.

Perubahan juga menimbulkan harapan. Meski kadang menakutkan, perubahan ini tentu menjanjikan ekspektasi. Adanya harapan untuk mencapai hidup yang lebih baik yang menyebabkan seseorang berani meninggalkan kondisi lama menuju kondisi yang baru. Tentu walaupun kadang mahal bayarannya, artinya ada banyak rintangan, tantangan serta pengorbanan yang tidak sedikit, tapi tidak membuat sebagian orang gentar. Karena perubahan selalu memberi warna tersendiri dan memberikan iming-iming yang cukup menarik untuk digapai.

Mungkin kita bertanya apakah kita masih harus berubah, bila merasa apa yang kita imiliki sudah sesuai dengan yang diinginkan, lalu buat apa perubahan itu?? Masih perlukah?? Jawabannya adalah tentu masih perlu, justru inilah yang dinamakan paradok dari perubahan, dimana perubahan harus dilakukan bukan pada saat kritis, tapi perubahan harus dilakukan pada saat kita sedang berada di atas atau di dalam kondisi yang baik. Agar kita bisa tetap mempertahankan bahkan meningkatkan kondisi dan posisi tersebut tersebut. Karena kalau tidak bisa adaptif dengan perubahan, maka kita akan terseret oleh perubahan tersebut. Jangan sampai ucapan Jim Collins terjadi pada kita, dalam studinya ia pernah mengatakan “Good is the Enemy of Great” bahwa kondisi yang baik (good) adalah musuh yang sering menghalangi kita untuk berevolusi dan memasuki kondisi yang lebih baik (great). Semoga tidak terjebak ….Salam Sukses!!!

Selengkapnya...

16 Januari 2009

SEMANGAT ITU HANYA SESAAT

Sengaja saya menahan hasrat untuk tidak menulis dulu artikel ini di awal bulan januari, sampai saya menemukan suasana hati yang cocok untuk bisa dijadikan landasan dalam tulisan kali ini. Di tengah gegap gempita dan gemuruh suasana tahun baru, ingin rasanya saya larut dalam euforia kesenangan hanya sekedar untuk merayakan detik-detik pergantian tahun. Tak tergambar rasanya semangat yang membara yang menyelinap dalam dada kala itu, guna menyongsong tahun baru, walaupun banyak orang bilang tahun ini merupakan tahun krisis. Tapi toh hal ini tidak menyurutkan banyak orang (termasuk saya) untuk tetap optimis menyambut tahun baru ini.

Tidak tahu mengapa ada perasaan sumuringah menjelang datangnya tahun baru, ada semangat baru yang mampir dalam diri untuk bisa melakukan sesuatu yang lebih dari tahun sebelumnya. Beberapa impian, target dan resolusi pun kembali digulirkan untuk bisa dicapai. Walaupun secara tidak sadar ternyata ada beberapa janji lama yang ingin dilakukan, yang sekarang masuk lagi dalam agenda tahun berjalan. Pantas saja kalau Mario Teguh bilang “kadang kita yang menyambut tahun baru ini dengan kesungguhan baru tapi masih dengan janji lama”. Sebagai contoh berapa banyak orang yang berjanji ingin berhenti merokok tapi sampai sekarang tidak bisa. Bahkan yang lucu saya pernah mendengar ada yang berkomitmen untuk mengurangi merokok, lalu dimana letak kesungguhannya kalau janjinya saja masih setengah-setengah.

Banyak orang yang merayakan tahun baru, hanya merayakan harinya saja. Tanpa pernah berpikir untuk merubah kemampuan yang dimiliki. Tidak ada transisi mental yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi kesulitan hidup yang semakin komplek. Banyak yang terjebak ke dalam kegembiraan sesaat, dan melupakan permasalahan untuk sementara waktu hanya untuk menyambut tahun baru. Konsekuensinya tidak jarang banyak orang menyambut tahun baru hanya bermodalkan sedikit semangat dan masih dengan kemampuan lama.

Kemeriahan tahun baru ternyata tidak berlangsung lama, semangat yang menggelora pun ternyata lenyap tak ketahuan batang hidungnya, ketika kita sudah dihadapkan dengan permasalahan hidup sehari-hari. Semangat kemeriahan tahun baru seolah tak membekas sedikit pun dalam menghadapi hari hari selanjutnya. Rencana, impian dan angan-angan yang sempat disemaipun menguap begitu saja tertelan dalam rutinitas harian yang menjemukan.

Lantas kenapa semangat dalam diri ini hanya mampir sebentar ?, seperti halte yang dijadikan tempat peristirahatan sementara untuk menunggu bus datang. Kemana teriakan penuh semangat dan nyaringnya bunyi terompet yang kemarin hadir menyeruak pada saat detik-detik tahun baru, lantas kemana hilangnya optimisme yang menggunung waktu itu….Sedemikian besarkah angin yang meniup, sampai-sampai semuanya tersapu begitu saja. Dimana letak kesalahan dari semua ini???

Tanpa harus menanya rumput yang bergoyang pun, harusnya kita bisa mengidentifikasi kekeliruan yang kita lakukan saat merayakan tahun baru tersebut. Ingatkah kita ketika melakukannya dengan kemeriahan dan bersenang-senang serta menghamburkan banyak uang hanya untuk satu malam. Tidak kah kita mencoba untuk introspeksi diri, tentang apa saja yang sudah dilakukan kita ditahun sebelumnya. Pernahkah kita berpikir untuk merinci apa-apa saja yang sudah kita kita kerjakan, dan menghitung berapa banyak yang belum kita dapatkan. Atau yang lebih jauh lagi, sudahkan kita merancang strategi apa yang akan diterapkan untuk bisa mencapai target di tahun baru. Bukan malah larut dalam kemeriahan dan hingar bingar pesta tahun baru. Jelas saja tidak ada nilai-nilai yang bisa kita dapatkan, lebih-lebih solusi yang kita butuhkan. Bukan kah yang terpenting dalam hidup adalah bagaimana kita memaknai setiap proses yang kita jalani. Tidak penting kegagalan dan kesuksesan itu datang, karena yang jauh lebih penting adalah bagaimana memaknai hal tersebut, serta bagaimana membuat hal tersebut menjadi media pembelajaran buat kita.

Semangat itu harusnya masih ada, ketika ada sebuah dorongan yang besar untuk mencapainya. Mirip seperti slogan salah satu partai peserta pemilu, tapi kita plesetkan sedikit sehingga bunyinya “semangat itu masih ada”. Terus bagaimana cara menumbuhkannya? Ada dua cara yang bisa kita coba untuk dilakukan. Yang pertama, bayangkan anda akan sangat bahagia bila apa-apa yang menjadi keinginan kita itu tercapai. Dan yang kedua, banyangkan juga apabila impian-impian kita ditahun baru ini tidak tercapai. Dan jangan lupa pastikanlah setiap apa-apa yang kita lakukan dan kita capai, semuanya bisa memberi nilai tambah buat orang lain. Sehingga kalaupun ada ketakutan yang datang, pastikan kalau ketakutan itu bukan karena kita takut akan kekurangan diri sendiri, tetapi takutlah karena apa yang kita lakukan dan kita dapatkan tidak bisa melebihkan bagi orang lain…Salam Super
Selengkapnya...

02 Januari 2008

YOU CAN PREDICT YOUR FUTURE


Mumpung masih dalam suasana tahun baru, tidak ada salahnya saya mengucapkan “Selamat tahun Baru” semoga di tahun ini bisa mencapai apa yang selama ini kita impikan atau cita-citakan. Tentunya banyak optimisme dan harapan yang ingin kita gantungkan di tahun 2008 ini, apa yang selama ini kita belum capai, mungkin tahun ini kita mencoba merealisasikan keinginan itu.

Ada sesuatu yang menarik ketika menjelang pergantian tahun, banyak orang yang mencoba mencari peruntungan dengan mencoba mengetahui nasibnya lewat paranormal, atau mencari info di zodiak, atu bahkan dengan mendaftar dalam layanan sms yang sekarang lagi marak menyediakan jasa ramalan.

Permasalahannya adalah bukan seberapa banyak media atau jasa yang bisa digunakan untuk mengetahui masa depan kita. Yang jauh lebih urgen adalah besarnya belief kita terhadap apa yang dikatakan oleh media tersebut. Mungkin kita sebegitu percaya nya pada sebuah ramalan paranormal terkenal, bahwa tahun depan kita akan mendapat musibah. Atau bahkan bagi para remaja mungkin banyak yang percaya dengan ramalan zodiak yang banyak meramalkan tentang asmara, emosi atau bahkan keuangan.

Yang lebih menarik lagi adalah kita banyak menjumpai suatu “kebetulan” dari sebuah ramalan, sehingga hal itulah yang sering dijadikan dasar alibi yang membuat kita makin percaya terhadap sebuah ramalan. Pertanyaan besarnya adalah kenapa banyak ramalan itu bisa terjadi???

Sebelum menjawab pertanyaan diatas ada sebuah cerita nyata yang menarik, yang mungkin bisa saja nanti akan dapat merubah belief anda tentang ramalan. Begini ceritanya, dulu ada sebuah desa terpencil dimana ada seorang anak yang hidupnya dalam kemiskinan dan berteman akrab dengan kesusahan, bosan dengan kesusahan akhirnya dia coba peruntungan dengan diramal oleh “orang pintar” di desanya. Hasilnya ternyata sang “orang pintar” tersebut mengatakan bahwa ada hal yang menyebabkan kenapa anak ini selalu hidup dalam kesusahan, dan bahkan dia meramalkan bahwa kedepannya pun anak ini tidak akan bisa sukses. Dia mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh tanggal lahir dan weton anak tersebut yang tidak bisa mendukung untuk kesuksesan. Mendengar hasil tersebut, anak itu kaget dan tidak percaya terhadap ramalan tersebut, sehingga dia bertekad untuk membalikan semua ramalan tersebut. Singkat cerita, anak tersebut “hijrah” ke kota untuk mencari peruntungan. Dan akhirnya, sekarang dia menjadi orang sukses dan mampu mengembalikan semua ramalan2 dari dari “orang pintar ” tersebut.

Dari cerita di atas kita bisa mengambil pelajaran bahwa, keberanian anak kecil itu untuk lebih mempercayai kecayikinannya daripada apa yang dikatakan peramal tersebut, membuahkan hasil. Tentunya hasilnya akan berbeda ketika anak kecil tersebut mempercayai paranormal tersebut, pasti sampai kapanpun hidupnya akan dihantui kesusahan.

Dalam sebuah buku yang menarik yang berjudul “The Secret”, disana dikatakan ada rahasia seseorang untuk mencapai kesuksesan. Rahasia tersebut salah satunya ada di hukum tarik menarik, hukum tersebut gampangannya seperti ini ketika kita memikirkan sesuatu hal atau kita percaya terhadap hal tersebut, maka seluruh konsentrasi elemen dalam tubuh akan ditarik untuk mencapai atau memenuhi kepercayaan tersebut. Contohnya ketika seorang anak meyakini bahwa mata pelajaran matematika sulit, maka pasti dalam setiap tindakan anak tersebut akan mengerucut pada ketidak pd-an-nya dalam belajar dan menghadapi soal matematika. Ketika belajar dia akan males karena merasa bahwa dia tidak akan pernah bisa matematika, dan ketika ujian pun pasti dia tidak bisa karena tidak yakin bisa menggarap soal2 tersebut.

Kuncinya adalah bagaimana kita bisa memilih kepercayaan yang akan kita yakini untuk kita realisasikan. Mungkin sudah saat nya kita percaya pada kemampuan diri untuk bisa mencapai semuanya, tanpa terlalu peduli terhadap ketidakpercayaan orang lain terhadap potensi kita. Guru imajiner saya, jennie s bev pernah mengatakan, apa yang anda yakini tentang diri anda itu lebih penting daripada apa yang orang lain yakini tentang anda. Itu menunjukan sebuah kepercayaan diri yang tinggi tanpa takut dikatakan sombong (baca artikel sebelumnya yang membahas tentang optimisme dan kesobongan). Sehingga dengan demikian kita bisa merancang masa depan kita dengan baik ditahun ini, dan kita meyakini bahwa masa depan kita ditangan kita sendiri. Kita bisa lantang mengatakan bahwa I can predict my future….SALAM SUKSES!!!
Selengkapnya...

23 Desember 2007

HARI INI MALU, LUSA BANGGA


Ada hal yang menarik ketika kita mau dan mencoba belajar dari orang sukses atau orang hebat. Selalu ada titik kesamaan atau benar merah yang bisa kita ambil pelajaran dari hidup mereka.

Orang sukses biasanya mempunyai succes story yang relatif hampir sama. Biasanya kesamaan itu terletak pada sebuah gambaran tentang kondisi dia sebelum menuju fase kesuksesasan. Orang-orang sukses lebih suka berbicara atau bercerita tentang kepahitan, kegetiran dan kesengsaraan dia sebelum mencapai level kesuksesan mereka. Karena dengan memberikan gambaran kondisi tersebut, kita dapat mengetahui bagaimana perjuangan dia untuk bisa mencapai suatu kondisi sukses.

Padahal kalau kita lihat lebih jauh, kondisi yang dia ceritakan adalah sesuatu yang sebenarnya “memalukan” bagi sebagian orang. Sebagai contoh sosok Jennie S. Bev seorang penulis buku best seller dan konsultan yang sukses hidup di negeri Paman Sam. Dia pernah bercerita bahwa pada saat dia masih dalam kandungan ibu nya, saat itu ayahnya meninggalkan dia hanya untuk wanita simpanannya. Itu artinya kelahiran dia tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri. Pada saat itulah dia bertekad untuk bisa menjadi manusia yang hebat dan bisa bermanfaat buat sesama. Sampai pada akhirnya dia bisa menjadi penulis bulu dan beberapa artikel yang dia buat diakui di beberapa negara seperti Amerika, Prancis, dan Inggris, dan asal tau bahwa bahasa negara tersebut bukan bahasa ibunya, karena dia memang lahir di Indonesia. Dan sekarang dia hidup di negara Paman Sam sebagai konsultan.

Banyak lagi mungkin banyak kisah sukses orang-orang hebat disekitar kita yang dulunya sebagai cleaning servis, satpam, atau OB, tapi sekarang dia bisa sukses. Dan yakinlah pada saat dia sudah mencapai level kesuksesan tersebut, hal yang akan dia ceritakan bukan pada dia sekarang mempunyai mobil berapa atau rumah berapa atau apapun, tapi dia pasti bercerita tentang kegetiran dia dimasa lalu.

Hal itulah yang dikatakan hari ini malu, maka lusa bangga. Sehingga kita tidak usah berkecil hati ketika kita berada di sebuah kondisi yang “memalukan” saat ini yakinlah bahwa suatu saat nanti hal itu yang akan menjadi cerita yang membuat kita bangga dan bisa berdiri tegak dan sama tinggi dengan orang lain. Mengutip pesan Ruslan pengarang buku kampus undercover, dia mengatakan bahwa “Kalau hari ini milikmu maka esok kan ku raih, lusa kan ku genggam, walaupun dengan tongkat pensil kayu yang rapuh”. Ini menggambarkan sebuah tekad bahwa kalaupun hari ini milik orang2 yang sedang menikmati kehidupan maka yakinlah bahwa hari esok dan lusa pasti akan menjadi milik kita, tentunya dengan semangat dan tekad yang membara ditambah usaha yang tidak pernah mengenal kata menyerah. Karena hari esok adalah milik orang-orang yang percaya akan kesuksesannya. SALAM SUKSES SELALU!!!
Selengkapnya...

24 September 2007

Hukum Kompensasi

Hukum ini merupakan kelanjutan dari hukum menabur dan menuai. Hukum ini mengatakan anda akan mendapatkan hasil yang sebanding dari apa yang anda usahakan. Pas takarannya, tidak lebih dan tidak kurang. Dengan demiakian, apa yang anda capai adalah hasil usaha anda yang sudah anda lakukan, Sama dengan hukum tabur tuai, ketika anda menabur angin maka anda akan menuai badai. Kalau boleh mengambil ucapan bijak orang sunda, melak bonteng moal jadi cabe. Terjemahannya ketika kita menanam timun maka tidak mungkin akan menghasilkan cabe.

Itulah hukum kepastian alam yang akan berlaku mutlak. Semisal status anda saat ini adalah kompensasi dari apa yang sudah anda lakukan. Sedikit relevan dengan hal ini Hasan Al Bana pernah mengatakan, kenyataan anda hari ini adalah hasil mimpi anda kemarin, dan kenyataan anda di masa depan adalah hasil mimpi anda sekarang. Tentunya mimpi yang diwujudkan melalui tindakan nyata, tidak hanya khayalan disiang bolong. Karena orang yang sukses adalah orang yang waktu mimpinya lebih banyak dari waktu tidurnya. Dari uraian ini saya mengajak anda untuk menggunakan waktu yang kita punya untuk melakukan investasi dengan terus mananam sebanyak-banyaknya dengan cara meningkatkan kemampuan, pengetahuan, keterampilan atau apapun yang akan bisa memberi niali tambah.

Kembangkan seluruh kemampuan itu sampai hingga tidak pernah mencapai titik batas. Hal yang paling menakutkan jika kita telah merasa menemukan batasan-batasan palsu yang diakibatkan baik oleh pengalaman sebelumnya yang belum tentu benar pada saat ini atau percaya dengan ucapan orang lain. Anda memakai batasan itu untuk menjustifikasi ketidak-mampuan Anda. Janganlah membuat batasan abadi dalam hidup kita, buatlah batasan-batasan sementara agar kita dapat terus berusaha mencapai hal yang terbaik. Janganlah kita mudah percaya terhadap apa yang dikatakan orang lain, namun ujilah kebenarannya dengan memberikan yang terbaik dalam hidup ini.

Kurek Ashley, pembicara motivasi asal Chicago mengatakan,” You cannot live by yesterday’s standards and expect aextraordinary results today.” (Anda tidak dapat hidup dengan standar-standar kemarin dan mengharapkan hasil yang menakjubkan hari ini). Tepat sekali, seorang juara selalu memperbaharuhi target yang ingin dicapainya. Tiada hari tanpa adanya kemajuan, bersiaplah untuk selalu lebih memberikan yang lebih baik dari apa yang Anda miliki sekarang. Sehingga nanti ketika kita akan menuai/memanen, banyak hasil yang akan kita dapatkan. Pertanyaan untuk kita renungkan sudah seberapa banyak benih yang sudah kita tanam??? Kalau belum, ayo kita mulai sekarang menanam, mumpung masih ada waktu…SALAM SUKSES!!!
Selengkapnya...

11 September 2007

BESARNYA SEBUAH ASA

Sudah menjadi tradisi, bila setiap tahun dunia pendidikan kampus disibukan oleh hajatan penerimaan mahasiswa baru. Banyak pihak yang menantikan akan momet tersebut, entah itu orang tua siswa, calon mahasiswa itu sendiri. Di pihak kampus juga tidak kurang gairaihnya, baik itu pihak birokrat kampus yang menanti calon “konsumen” yang baru, atau pun mahasiswa senior yang akan punya ade baru. Itulah realita yang selalu bergulir setiap satu tahun sekali.

Bagi mahasiswa baru, jelas perubahan status dari pelajar menjadi mahasiswa akan menjadi gengsi atau mungkin kebanggaan sendiri. Artinya dengan status yang baru dia telah menjadi siswa yang “super”, bagaimana tidak, dengan embel-embel mahasiswa yaitu terdiri dari suku kata maha dan siswa. Kata maha menunjukan sesuatu yang super dan luar biasa, dan merupakan puncak yang paling tinggi. Siapa yang tidak bangga dengan predikat tersebut. Hal itu akan semakin lengkap bila kita masuk jurusan studi sesuai dengan keinginan kita. Wah dengan hal tersebut kita mungkin bisa mengklaim kalau setengah dari cita-cita kita sudah tercapai. Tentunya asa yang besar ini pula juga yang akan menjadi pendorong semangat dalam melakukan proses perkuliahan nanti. Hal ini akan ditambah dengan harapan mempunyai teman baru, mempunyai lingkungan yang baru, tentu juga dengan intelektual yang baru juga. Bahkan tidak sedikit pula yang bermimpi ketiban pacar baru.

Untuk orang tua juga tidak kalah bahagiannya, hal ini karena tidak semua orang tua bisa menyekolahkan anaknya pada level perguruan tinggi. Dan tidak semua anak pula mempunyai kemampuan otak untuk bisa menembus perguruan tinggi. Bagi orang tua, kebanggaan yang paling tinggi adalah bila melihat anaknya sukses. Karena pada saat orang tua berada dalam forum publik, hal yang paling enak untuk dibicarakan adalah masalah anak. Jadi jelas akan menjadi kebanggaan yang luar biasa jika orang tua mempunyai anak yang cerdas dan mampu berprestasi.

Harapan yang besar juga hinggap di mahasiswa senior, banyak yang berharap (terutama aktivis organisasi) mahasiswa baru bisa lebih mengenal kampusnya bisa mengenal realitas sosial yang ada di masyarakat tentunya bisa menghindari dunia yang hedonis yang selama ini cukup mengakar kuat di sebagaian mahasiswa. Oleh karena itu, sudah sangat familiar bisa untuk menyambut mahasiswa baru diadakan acara yang dikenal dengan nama ospek. Diharapkan dengan acara tersebut bisa menanamkan paradigma baru untuk bisa mencetak intelektual yang berkualitas.

Jelas asa itu akan bisa tercapai jika semua pihak ikut memperjuangkannya untuk mencapai tujuan tersebut. Hal ini tidak bisa dilakukan secara parsial tapi harus didukung oleh semua pihak (prinsip mestakung) baik itu mahasiswa baru dengan mempunyai komitmen yang kuat untuk terus belajar, orang tua dengan selalu memonitor perkembangan anaknya, mahasiswa senior dengan memberi tauladan yang baik, elemen organisasi yang ada di kampus dengan memberi ruang untuk belajar dan berkreasi, dan tentu juga birokrat kampus dengan membuat kebijakan yang memihak mahasiswa.

Satu hal yang penting, sekolah jangan sampai menjadi candu yang bisa memabukan. Candu yang bisa membuat kita lupa akan jadi diri kita sebagai mahasiswa. Manusia intelektual yang mempunyai daya kritis dan peka terhadap fenomena sosial yang ada di masyarakat. Serta tentu saja manusia yang bisa menjadi agen untuk perubahan. SALAM SUKSES!!!
Selengkapnya...

08 September 2007

Live Your Life With Passion

Mengawali tulisan ini, saya tertarik dengan ucapan yang mendalam dan sangat filosofis yang diucapkan oleh guru imajiner saya yaitu Adi W Gunawan seorang Re-educator dan penulis buku best seller. Karena saya yakin banyak diantara kita yang tidak paham apa itu hidup, mengapa kita hidup, dan untuk apa kita hidup. Bahkan banyak orang yang menjalani hidup ini cuma sebatas menunjukan eksistensi, numpang hidup di dunia, atau bahkan hanya sebatas sebagai pelengkap, itupun pelengkap penderitaan.

Sistem pendidikan yang adapun belum mampu untuk bisa menghasilkan lulusan yang bisa menjawab pertanyaan diatas. Apalagi untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai kualitas dan mental yang bagus, serta menghasilkan manusia-manusia yang bijak yang bisa bermanfaat buat sesama. Sehingga tidak heran kalau Topatimasang (1998) mengatakan pendidikan tidak ubahnya seperti candu yang memabukan, yang membuat banyak orang yang terlena dan terbius sehingga tidak bisa mengenal realitas yang ada disekitarnya. Tentunya ini bertolak belakang dengan apa yang inginkan oleh salah satu tokoh pendidikan dunia Paulo Freire yang melontarkan tentang tujuan akhir upaya proses pendidikan adalah adalah memanusiakan manusia (humanisasi) yang berarti pemerdekaan atau pembebasan manusia dari situasi batas yang menindas dari kehendak kita.

Pada prakteknya sistem pendidikan tidak mengakui bahwa manusia itu sosok yang unik, artinya sosok yang satu akan berbeda dengan sosok yang lain. Buktinya untuk bisa mengukur kecerdasan seseorang masih saja menggunakan kecerdasan tunggal yaitu kecerdasan inteletual, yang bisa terlihat dari ketrampilan menghitung, merinci, dan menganalisis. Tidak heran kalau nilai raport dan IPK menjadi ukuran kebanggaan yang mutlak bagi anak didik dan orang tua sehingga tidak jarang banyak yang menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan nilai yang bagus. Hal inilah yang menyebabkan Adi W. Gunawan mengatakan dengan bahasa provokatif bahwa sekolah hanya dirancang untuk menghasilkan orang-orang gagal.

Padahal sudah sejak lama Howard Garner menemukan bahwa dalam diri seseorang terdapat kecerdasan yang majemuk, artinya seseorang memiliki beberapa kecerdasan yang antara satu dengan yang lain berbeda ukurannya. Kecerdasan tersebut yaitu linguistic, logical-mathematical, bodily-kinesthetic, spatial-visual, musical, intrapersonal, dan interpersonal. Bahkan diawal tahun 1990-an Daniel Golemen menemukan sesuatu yang menggemparkan bahwa kecerdasan intelektual hanya berpengaruh 20% terhadap kesuksesan dalam hidup. Selebihnya itu ditentukan oleh kecerdasan lain (kecerdasan emosional). Kecerdasan emosional yaitu kecerdasan untuk mampu memahami diri sendiri sehingga bisa memahami orang lain dan bisa membina hubungan baik dengan orang lain.

Dalam perjalanannya, saya banyak menemui mahasiswa yang belum memahami betul tentang hal tersebut diatas. Sehingga mereka menjalani kuliah hanya sebatas rutinitas balaka. Berangkat pagi hari untuk mengikuti kuliah, datang langsung duduk manis dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh dosen, dan pulang setelah dosen selesai mengajar, pergi ke perpustakaan itupun kalau sempat dan tidak menggangu waktu bermain. Sedikit sekali diantara mahasiswa yang mau menggunakan waktu sisanya untuk melakukan aktivitas yang bisa menggali dan mengembangkan potensi diri seperti kegiatan berorganisasi di dalam maupun di luar kampus. Banyak yang tidak mau keluar dari zona kenyamanan (comfort zone) untuk menerima tantangan dan kesulitan yang lebih dari hanya sekedar aktivitas kuliah.

Kata berorganisasi bahkan menjadi kata yang tabu dan sangat dihindari bagi sebagian mahasiswa dan menganggap hanya membuang-buang waktu saja. Padahal dengan ikut berorganisasi itu artinya kita kuliah lagi di Hard University, universitas kehidupan yang berisi kesulitan dan tantangan, yang mengharuskan kita untuk senantiasa belajar, belajar dan belajar. Dalam organisasi kita belajar bersosialisasi, belajar menerima perbedaan pendapat, belajar menerima tanggung jawab, dan belajar menghadapi masalah dan kesulitan. Pelajaran berharga inilah yang tidak didapatkan di bangku kuliah dan di pendidikan formal. Sehingga ketika kita lulus dari Hard University ini kita akan menjadi pribadi yang kuat dan bijak dalam menghadapi masalah.
Bahkan banyak contoh yang gagal di dunia pendidikan formal, tapi dia berhasil di dunia nyata. Orang-orang seperti Thomas A Edison yang hanya sekolah beberapa bulan tapi ternyata bisa sukses menjadi penemu lampu pijar dan memegang hak paten lebih dari 3000 hasil temuan. Atau bahkan Sosok Andrie Wongso yang menjadi motivartor no 1 indonesia, yang mempunyai gelar Andrie Wongso SDTT, TBS. Gelar yang unik yang tidak ada di lulusan pendidikan formal manapun, yaitu Sekolah Dasar Tidak Tamat, Tapi Bisa Sukses. Itulah sosok yang gagal total dalam pendidikan formal tapi bisa sangat berhasil dalam kehidupan nyata.

Tentunya kita bisa bersyukur karena kita mempunyai kesempatan yang tidak dimiliki setiap orang untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi. Oleh karena itu gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya, dengan mengisinya lewat aktivitas yang bermanfaat. Jalani setiap aktivitas tidak hanya menjadi rutinitas belaka, berikan nilai tambah terhadap sesuatu yang kita kerjakan. Hidupkan segala potensi yang kita miliki, agar bisa berkembang secara maksimal. Mengambil istilan Steven R. Covey, asahlah selalu gergajimu. Niatkan dalam melakukan segala aktivitas untuk selalu belajar, karena ketika kita hidup untuk belajar maka kita akan belajar tentang hidup. SALAM SUKSES!!!
Selengkapnya...

14 Juli 2007

KULIAH DI HARD UNIVERSITY

Banyak orang yang beranggapan bahwa universitas terbaik di dunia adalah Harvard University. Sebuah universitas yang sangat diimpi-impikan oleh sebagian orang untuk bisa belajar menimba ilmu dan pengetahuan. Tapi benarkah persepsi banyak orang kalau Harvard University adalah universitas terbaik di dunia??? Terkait dengan hal tersebut saya tertarik dengan ucapan salah satu dosen Unsoed yaitu Pak Waidi, beliau tidak setuju dengan statement bahwa universitas nomor wahid dan tebaik adalah Harvard University karena menurut beliau ada universitas yang jauh lebih HEBAT dan jauh lebih DAHSYAT di muka bumi ini yaitu Hard University.


Hard University adalah universitas kesulitan yang ada dalam kehidupan, tidak perlu ujian masuk layaknya SPMB atau ujian lokal untuk bisa menjadi anggota. Semua orang bisa masuk tak terkecuali baik itu anak-anak, remaja, ataupun dewasa bahkan tanpa melihat status baik itu miskin ataupun kaya. Sangat mudah untuk masuk tapi sangat sulit untuk keluar dalam mengatasi masalah atau ujian yang dihadapi.

Inilah universitas yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari, menuntut seseorang untuk terus belajar dan belajar, untuk bisa bangkit dari kegagalan, bangun lagi dari keterpurukan. Universitas yang sangat mudah sekali untuk dimasuki tapi sangat sulit untuk bisa lulus dari sana. Intelektual dan otak saja tak cukup untuk dijadikan alat dalam menghadapi setiap masalah yang datang.

Banyak orang yang berhasil di dunia pendidikan formal, tapi gagal total dalam Universitas Kehidupan, seseorang yang berpendidikan tinggi tapi tidak mampu menjaga kehormatannya. Perlu pemaknaan hidup yang dalam untuk bisa melalui ujian dalam universitas ini. Dan jangan harap ada waktu libur setelah anda menghadapi ujian yang satu, karena akan ada ujian yang lebih besar dan lebih sulit lagi. Mengambil istilah Steven Covey asahlah gergajimu, yaitu mengharuskan kita untuk senantiasa meningkatkan kemampuan kita, karena hal ini mutlak dilakukan, untuk bisa berhasil dalam menghadapi ujian tersebut.

Pembaharuan terhadap diri harus terus dilakukan dan tidak pernah mengenal kata maksimal. Oleh karena itu ketika kita ingin berhasil di universitas yang paling HEBAT di dunia yaitu Universitas Kehidupan, maka kita harus belajar, dan belajar. Agar dari proses pembelajaran itu kita mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang cukup. Sehingga hal ini bisa dijadikan bekal dalam menghadapi segala kesulitan yang akan menimpa kita. SALAM SUKSES !!!
Selengkapnya...

OPTIMISME, SOMBONG, DAN AMBISI

Ide penulisan ini muncul dari sebuah pertanyaan teman saya, pikiran itu ada setelah beberapa waktu saya mengisi motivation training di salah satu organisasi kampus saya. Dia merasa bingung beberapa hari setelah mendapat materi yang diberikan tentang pentingnya seseorang mempunyai big dream, apa yang dia tanyakan sebelumnya belum sempat saya pikirkan, dan saya agak kelabakan mendapat pertanyaannya. Dia bertanya kenapa ketika kita punya keinginan yang besar dan kita sangat optimis, ternyata malah hasilnya tidak terlalu baik, tetapi kenapa kalau tidak optimis atau tidak dikejar, maka sesuatu itu malah hasilnya baik??? Terus saat-saat seperti itu masih perlukah kita punya ambisi, dan apakah ambisi itu sesuatu yang bagus atau jelek???


Waktu itu saya menjawab dengan seadanya bahwa untuk mempunyai impian atau keinginan itu harus disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan kita, sehingga dalam pencapaiannya pun itu akan lebih mudah. Oleh karena itu pengenalan terhadap diri sendiri itu sangat mutlah untuk diketahui. Sementara mengenai ambisi saya cuma bisa mengatakan itu bagus yang penting dalam mencapai tujuan tidak menghalalkan segala cara.

Kita tinggal dulu sejenak tentang cerita di atas, saya mau mencoba mengalihkan ke sesuatu hal. Dalam keseharian saya sering menggunakan strategi yang saya pelajari untuk mencapai impian, yaitu salah satunya dengan menceritakan apa yang menjadi impian kita kepada orang lain, dengan harapan ketika ada orang yang tepat untuk membantu impian kita maka hal ini akan lebih mudah. Atau setidaknya minimal orang tersebut ketika bertemu dengan kita selalu mengingatkan tentang impian kita, karena manusia memang sosok yang pelupa. Tapi banyak tanggapan yang masuk ke telinga saya mengenai impian-impian itu. Ada yang mengatakan saya terlalu muluk-muluk, kata-katanya terlalu tinggi, terlalu sombong, ambisinya sangat besar, walaupun ada juga yang bilang bagus dan itu sesuatu yang besar. Sampai saya berpikir apakah yang saya katakan salah, saya terlalu PD, optimis, atau bahkan sombong.

Sampai pada akhirnya saya luangkan waktu untuk merenung mengenai hal ini, tentunya ini berhubungan juga dengan pertanyaan di atas. Saya memulai untuk memahami apa itu optimis, beda ga siy sama sombong, terus apa hubungannya dengan ambisi. Setelah coba saya pikirkan lebih dalam saya akhirnya memaknai optimis adalah sebuah keyakinan untuk mencapai tujuan/cita-cita. Dan optimisme ini hakekatnya harus didasari dengan pengenalan akan keadaan diri, baik itu kekuatan kita ataupun kelemahan kita, dan optimisme juga harus didasari dengan potensi yang kita miliki yang Tuhan berikan. Sehingga kita mengatakan sesuatu tetapi atas dasar pengenalan diri yang utuh dan kita yakin akan mencapainya, maka kita sudah menjadi orang yang optimis, terlepas apapun perkataan orang lain terhadap kita. Terus apa hubungannya dengan sombong, saya memaknai sombong ketika kita mengatakan sesuatu tanpa terlebih dahulu kita mengenal diri kita sendiri, baik itu kekuatan dan kelemahan kta. Sehingga apa yang kita katakan itu terlalu besar dan tidak berdasar, karena kita juga buta dengan diri kita. Untuk mengetahui kita sombong atau tidak mengenai perkataan kita maka kita harus melakukan cermin diri atau introspeksi diri.

Optimis dan sombong sama-sama mengatakan sesuatu yang besar, perbedaanya terletak pada sejauh mana seseorang mengenal potensi dirinya sendiri. Dan hal ini juga akan kelihatan ketika seseorang mengatakannya, orang yang optimis akan mengatakan dengan bijak, sementara yang sombong akan terkesan arogan ketika mengatakan.

Terus bagaimana dengan ambisi terhadap cita-cita dan tujuan kita, apakah hal itu baik atau sebaliknya. Sebelum memberi penilaian baik dan buruk kita coba maknai dulu apa itu ambisi. Ambisi merupakan kehendak yang kuat untuk mencapai tujuan, dan ini bisa dijadikan nafas untuk mencapai tujuan kita. Ambisi merupan sesuatu yang baik bahkan memang ambisi mutlak dimiliki oleh seseorang yang punya tujuan. Karena dengan ambisi (kehendak kuat) maka akan menuntun seseorang untuk melakukan tindakan yang akan mengarahkan pada pencapaian tujuan. Ambisi akan sangat bagus jika didasarkan pada optimisme (keyakinan kuat) untuk mencapai tujuan yang didasari atas pengenalan diri. Yang bahaya adalah ketika ambisi bersanding dengan sombong, yaitu ambisi (kehendak kuat) untuk mencapai sesuatu yang didasari tetapi didasari oleh kesombongan (tidak mengenal diri), maka hal ini akan mengakibatkan seseorang melakukan sesuatu dengan segala cara untuk mencapainya. Tidak jarang kita banyak menemukan seseorang yang membabi buta dengan ambisinya, karena banyak diantara kita yang tidak mengenal diri kita sendiri. Sehingga dari banyak fenomena itu tidak jarang kita tabu untuk mengatakan kalau kita punya ambisi besar untuk mendapatkan sesuatu.

Sebagai penutup, saya ingin kita untuk selalu merenung dan mencoba mengenal lebih banyak tentang diri kita sendiri, jangan sampai kita merasa terasing dengan diri kita sendiri. Sehingga dengan itu kita bisa bersikap optimis dan mempunyai ambisi untuk mencapi tujuan, tanpa ada yang menganggap apa yang kita omongkan hanya khayal belaka. SALAM SUKSES!!!
Selengkapnya...

e-book motivasi gratiss